Pages

\

NOVEL FIKSI DAN HUJAN PUN BERHENTI





NOVEL FIKSI DAN HUJAN PUN BERHENTI
KARYA : FARIDA SUSANTY
 
 
A.    IDENTITAS
1.   Judul                       : Dan hujan pun berhenti…

B.     KEPENGARANGAN
Farida Susanty Lahir di Bandung, 18 juni 1990 adalah seniman berkebangsaann Indonesia. Namanya dikenal melalui sejumlah karya sastra berupa fiksi dan puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa. Farida susanty merupakan salah satu penerima penghargaan kusala sastra khatulistiwa melalui karyanya, Dan Hujan Pun Berhenti…, untuk kategori penulis muda berbakaat, tahun 2007, bersama dengan Gus tf sakai melalui karyanya, perantau (prosa) dan Acep Zamzam Noor melalui karyanya, Menjadi Penyair Lagi (puisi). Farida mempunyai hobi membaca, mengobrol, tulis dan nonton film. Prestasi sastranya pernah masuk beberapa majalah, menang beberapa lomba cerpen universitas di Bandung. Esainya pernah masuk suplemen Belia, Pikiran rakyat, mengikuti Coaching Cerpen Ka Wanku 2006, dan cerpennya menjadi juara pertama best three short stories coaching cerpen Ka Wanku 2006.




C.  RINGKASAN
Ringkasan ini merupakan 13% dari jumlah halaman novel yang saya laporkan.
I.         Bab 1 : Dalam hujan sore itu…
Sore di Bandung. Sebuah apartemen bercat abu-abu mengelupas, berdiri kokoh dipinggiran Dago. Seorang pemuda salah satu penghuni tempat itu adalah sorotan. Rambutnya menunjuk ke lebih dari empat mata angin. Langkah terhuyung. Kulitnya coklat. Matanya cukup sipit. Bibirnya proprosional, namun memar di pinggir-pinggirnya.
Namanya leo. Matanya seperti ember ditengah sahara. Kering. Kosong. Penuh debu. Tapi, sangat kuat. Dan sangat gelap, walau lensanya berwarna cokelat. Wajahnya tenang, picingan matanya menunjukan  bahwa ketengan terlalu imitatif. Aura yang campur aduk. Yanga membuat orang lama mengamatinya. Berusaha mengerti walaupun tidak akan pernah bias.Leo memegang segelas air. Air yang ia teguk beberapa kali selama berjalan. Air yang sesekali ia ludahkan kembali Karena mengandung darah. Ia datang ketetangganya, nenek komrisah atau bias disapa nenek icha, dan mengatakan ingin ikut mencuci gelasnya. Ia cidukkan benda tersebut ke bak untuk mengambil air dari sana.
Kemarin airnya diputus PDAM Karena dia belum mebayar tagihan 2 bulan ini. Gara-gara kakanya belum mentransfer uang bulanannya. Leo tersenyum lagi, meneguk gelasnya, leo sudah dying untuk minum, tidak peduli dia makan atau tidak hari ini, terutama ia telah dikeroyok orang ramai-ramai.
Leo tertawa kecil mengingat sensasi yang ia rasakan ketika dirinya ditendangi, dipukuli, dan dibanting-banting oleh sekelompok orang yang dipimpin oleh tyo. Pengakuan tyo; leo merusak mobilnya. Tapi yang pasti rasa sakit itu leo menikmati benar-benar seperti sebuah sentuhan lembut dari seorang ibu pada anaknya, leo dari duluu belajar menikmatinya. Karena hewan seliar singa pun lama-lama akan belajar menikmati cakaran yang menggores tubuhnya.
“Hmmph” leo mengendus menahan tawa yang lagi-lagi berusaha meledak dari mulutnya. Kilasan kilasan mengenai sesuatu,pandangan itu mulai remang-remang mendapati hal yang cukuk aneh,
Bayangkan, … seorang gadis kurus, tirus, berambut panjang menjuntai, mati-matian memasangkan boneka-boneka dari kain putih di dahan sebuah pohon. Benda tersebut namanya teru-teru bozu, tradisi penangkal hujan khas jepang. Tapi apakah wajar orang Indonesia ikut-ikutan menggantungkan hal seperti itu, bukan kah orang Indonesia cinta hujan?
                        Ya, leo juga perkecualian. Leo tidak suka hujan.
                        “ Hei! Kenapa menggantungkan itu?”
                        “Biar hujan nggak turun.”
                        “Memangnya kenapa kalua turun?”
                        “Aku  keburu mati sebelum aku bunuh diri.”
                        “Kamu mau bunuh diri?”
                        “ Ya, asal nggak hujan.”
                        “…”
Leo meneguk kembali air digelasnya. Leo baru berhenti berjalan ketika tubuhnya akhirnya berhadapan dengan pintu kamar apartemennya. Leo jelas ingin cepat-cepat masuk ke kamarnya untuk beristirahat.Tapi, sesaat leo terceket, suara rintik hujan tiba-tiba bernyanyi lembut di belakangnya. Menolehkan kembali kepalanya. Membelesakkan dirinya kedalam kenangannya menegenai hujan yang amat dibencinya.
Hujan. Berarti gadis itu tidak jadi bunuh diri, ia tersenyum lemah. Memicingkan mata herannya akan dirinya sendiri. Inilah dunia yang disenanginya, dunia pikirannya sendiri. Neverland. Bahkan, untuk makhluk pengagung logika dan harga diri sepertinya. Iris, bisi otaknya lirih.hari ini genap satu tahun iris pergi ya?
Leo membalik untuk membuka pintunya yang tertunda. Ruang kosong, baju berserakan di lantai, bekas mie instan, lampu remang. Suara petir menggelegar di angkasa, bertabrakan dengan hujan. Dan tiba-tiba ia kembali ke teriakan teriakan yang memenuhi otaknya. Tanpa boleh ada yang tau, siapa pun di dunia ini
“KAK! BUKA KAK! TOLONG KAZI!!!”
“GUE BENCI KALIAN! GUE BENCI HIDUP GUE! TINGGALIN GUE SENDIRI!” JEBRAK!
“Dasar kamu brengsek, Nami!!! PECUN”
***
“Besok kita ngobrol lagi ya?” dia tertawa polos
“Ah Iyaa! Nama saya iris”
“Nama kamu?”
***
Leo limbung kemudian tersungkur dibawah jendela. Mulutnya berteriak-teriak dalam sunyi. Tawanya meledak ledak lirih, riuh tak terkendali
SIAL!! SIAAALLL!! GUE MASIH BISA SEDIH DAN PUSING KONYOL GINI.. SIAAALLL!! HAHAHA!
“Aarkkh ….” Suara leo tercekat dikerongkongan, pintu terjeblak dasyat, dua tangan tiba-tiba merangkul lehernya, napas leo semakin terengah. Ketakutan. Kebencian. Kerinduan. Leo berteriak ngilu, tangan itu semakin kuat memeluknya, dan leo benar-benar tidak dapat bernapas kali ini
“Ris…,” bisik Leo, terjatuh. Pingsan

II.           Bab 2 Teriknya Balas dendam…
“Gue bunuh mereka!”
Seorang laki-laki berpotongan atletis, bergaris wajah tegas, dengan mata tajam menyudut sambal menghantamkan kepalan tangannya ke dashboard. “Lo tonjok sekali lagi dashboard gue, elo yang bakalan gue bunuh, Adi,” kali ini malah tampak lebih ganas dari teman galak sebelahnya “Heh, udah dipukulin gitu masih belagu lo. Sini, gue aja yang hantem mereka satu-satu! Rata semualah gue gampar!” kilah Adi—laki-laki penipu barusan. Sontak tiga orang lain yang berada di jok belakang, kevin, david, dan luthfi, langsung maju menoyor kepala cepak milik laki-laki itu
“Alah, banyak gaya lo! Ngehe! Gaya sejuta, paling dua menit tepar!”
“Iya, heh!”
“Heh lo tiga! Banci wahutri sih diem aja lo!”
“jeh, nyolot?! Nyolot?!”
Siang ini, gue, sama empat---shit, gue nggak tahan nyebut mereka”temen” gue, berencana ngedatengin markas gerombolan yang nyikat gue kemaren. Padahal gue persetanlah. Tapi, geng gue nggak terima. Kita bakal mukulin mereka lebih ringsek lagi.
“Jaga mulut lo heh, Di! Kalo lo koma, kita juga yang nyeret lo ke ICU heh!” ejek david
“Deuh, orang kampung ngomong ICU. Hebat, pantesan lo lulus TK, vid. Ckckck…” timpal leo geleng-geleng. “cerewet lo heh!”
David memang berpotongan tidak terlalu mencolok seperti kedua teman didepannya. Namun ada kekhasanya yakni dialek kampungan nan jauh di mato-nya., mempunyai logat “heh” kampong terkental se-SMA 103.
“Si Tyo kira-kira udah dating ke tempat tongkrongannya belum?” Leo menggeleng.” Tenang aja, kita masih punya waktu ngancurin tempat nongkrong mereka,” jawabnya santai. “Terlalu ‘langsung ada’ juga nggak seru, tau. Serangan nggak keduga biasanya lebih pedih dari pada langsung nyosor-tabrak!”
“Jadi gimana nih rencananya heh?” David mencondongkan kepalanya ke depan, kepada adi dan leo, pentolan mereka. “Ntar lah liat situasi,” jawab adi. “Tapi yang pasti alat udah lengkap. Gue udah bawa beberapa pilox, tongkat baseball, sama telor busuk barusan dari rumah. Tinggal…---eh, lo vin, mirasnya lo bawa, kan?” ia membalik  pada kevin.
“WOY! Nyampe nih!” Leo mengerem mendadak dan membuat seisi mobil nyaris terjungkal ke belakang. Suara “Pkoook!” membahan di seluruh atap mobil. Leo tertawa. Forrest gump bilang kita tidak tahu apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, mungkin gue cukup akan bilang gue tidak mendapatkan apa-apa.
“ Udah, turun lo semua! Males gue, mobil gue jadi bau ayam gini!” tempat nongkrong tyo dan gengnya masih kosong. Sepertinya mereka memang belum keluar dari sekolah. Gue bahkan udah nyisihin bensin terakhir gue buat semua ini, lalu dalam langkah ringan, dihampirinya dingding belakang tempat nongkrong geng itu. Leo berbisil “Oke… pesta dimulai, ayam-ayamku…’
Ssshht… leo mengocok pilox-nya dan menyemprotkan kata-kata pertamanya. GEMBEL PENGECUT!! “Hahaha… ini kata-kata pembuka gue,” ujar leo. “selebihnya lo pikirin aja apa bacotan yang bias bikin mereka terkencing-kencing.” Luthfi menulis : WILAYAH INI BUKAN MILIK TYO BANCI LAGI, KINI MILIK BUNCH OF BASTARD! Kevin menulis : BUANGLAH SAMPAH SEMBARANGAN. David menulis : YANG DUDUK DEPAN DINDING BISULAN. Dan Adi menulis : NENEK LO PEREK! CUCUNYA TKANG NGEROYOKIN ORANG
“Hey ngapain lo semua?! Brengsek! Keparat lo,leostrada. Beraninya dari belakang, lo pengecut!”
“Siapa yang pengecut? Elo yang pengecut, Sialan! Beraninya ngeroyok orang!”
BUG! Sebuah tinjuan mampir di pipi Leo dan membuatnya terjengkang ke belakang. Gong perang berbunyi. Seketika nafsu masing-masing tim memanas. Leo, yang setelah dipukul mengeluarkan darah lumayan banyak dari mulutnya, buru-buru bangkit dan memisahkan diri dari area pertempuran itu. Disekanya mulutnya. Matanya berkilat-kilat penh dendam. Leo membuka pintu dan mengeluarkan sebuah jeriken. Diayun-ayunkannya jeriken itu sementara tubuhnya berjalan tenang melewati teman-temanya menuju mobil tyo. Sesampainya didekat mobil tyo, leo mengambil sebuah batu dan melemparkannya kejendela yang baru diresparasi tersebut.
Leo membuka tutup jeriken dan mengayunkannya ke interior mobilnya, tetapi bkan itu yang ingin leo lakukan, ia mengguyurkan sisa jeriken it ke kaca depan mobil dan baru melempar korek api, api melahap kacanya, namun tak merusaknya sama sekali
“Makan tuh mobil…,” kata leo tenang, melangkah pergi.
III.         Bab 3 : Ternyata Dia ingin mati di sana
“Hhh… Hhh…” Leo terengah-engah masuk kedalm kamar mandi sekolahnya. “Fiuh…” ia menghela napas lega, menyandarkan badan jangkungnya ke pintu. Come again to my place, Ris… come when my life is this empty and this boring…, bantinnya trance.
 Leo tertunduk di depan wastafel, menatapi dirinya sendiri dalam sisa-sisa air yang menggenang. Gue gaboleh nyerah. Leo mengerenyit. Membasuh wajahnya dengan air yang tidak begitu bersih. Gue selalu senang bias berdiri sendiri sepertii sekarang. Leo ternyak. Air tiba-tiba membanjiri dari sebuah kamar mandi yang tertutup.
Air? Ada yang lupa nutup keran?AH?
Air tersebut tidak bening. Ada cairan berwarna merah disana. Ada yang bunh diri? Seketika adrenalinnnya naik. BRUK. Ia buka pintu kamar mandi aneh ini. Tidak dikunci. Umur gue berapa sih? Kenapa gue selalu ngeliat darah? Ngeliat kematian? Ngebiarin mulut gue keluar merah-merah seperti ini sejak kecil?. Seorang gadis tergeletak di sana. Standar, urat tangannya terpotong. Gadis yang ia temui tempo hari. Sekarang benar-benar berenang di atas darahnya.
“Lo… jadi bunuh diri ya?”
“NGGAK, BARU TESTING DOANG. Ya jelas lah!
Leo tersenyum cepat, puas cewek itu bias ia ajak bicara. “kenapa lo nggak takut mati?” “Kenapa kesalahan remeh seperti itu bikin lo mati?”
“Bukan kesalahan fatal?”
“…”
“Oke,oke. Jadi, lo mau mati gini aja atau ge selametin?”
“Sebaiknya elo pergi, sebentar lagi mungkin gue mati, apa lo nggak apa-apa? pergi aja…” “ lo punya saudara? Pacar? Teman?”
“Elo… nggak bakalan mikiri… hal kayak gitu.. pas lo… mau…mati nanti… Elo.. pada akhirnya… Cuma bakalan sendiri… nggak butuh siapa-siapa lagi…” Senyum mengembang getir di bibirnya.
“Oh ya? Leo melotot. Ini iris? Iris-nya? Mengapa mereka mengatakan hal yang begitu sama? Dan… wajahnya barusan, pas bicara itu, mirip banget sama iris! Semuanya… iris gue? Hidup lagi…? Sial, sial, nggak mungkin!
Pakhikmat guru BK SMA Wahutri yang mengintrogasi mereka siang ini
“ Jadi saai itu kamu tidak tahu spiza sedang bunh diri?”
“Oh, tau,dong.”
Pak hikmat mengerenyit. “Maksudnya?”
“Hehehe, saya kan cenayang…,”
“ Kamu ko tidak menyelamatkan spiza?” pak hikmat menggeleng-gelengkan dalam gestur janggal. “ Memangnya orang seperti kamu, peduli hal seperti itu, Leo?”
“Alah bukan dia yang salah kok! Jangan maen tuduh gitu, pak!”
‘Hahaha…” Leo terkekeh.
“DASAR KURANG AJAR! PERNAH DI AJARI SOPAN SANTUN TIDAK, SAMA ORANG TUAMU??”
Semprot pak hikmat marah, berdiri dikursinya
“Leostrada? Saya skors kamu! Mau?
“Hoh..” Pak hikmat menarik napas, sembari menyilangkan tangannya.
“kenapa  pak?”
“Pantas.”
“Pantas apa pa?”
Pak hikmat memundurkan bangkunya. “Pantas anaknya jadi liar seperti kamu. Orang tuanya seperti itu. Latarnya seperti itu.”
“Sayangnya saya tidak sama dengan orang tua saya, asal bapak tau,” Leo mengangkat alis, lalu memandangi gurunya itu. “ Apa, leo? Mau mukul bapa?” Leo diam tidak mengacuhkan. Ia berjalan keluar dari sana. Leo membanting pintunya sampai di apartemen sore itu. Leo mengendus. Sialan, umpatnya sambal meninju permukaan ranjangnya. Dan bersama dengan datangnya iringan malam, ia jatuh tertidur
IV.        Bab 4 Blood. At any cost
Selamat datang di bioskop gue
Hidup ini adalah mimpi. Atau, mimpi ini adalah hidup. Dimensi  manusia begitu bias sehingga kita amat bebas untuk berharap. Yang mana saja yang kamu sukai, percayailah itu sebagai hidupmu.
Scene 1
Sebuah rmah besar bergaya eropa berdiri tegak dalam kemilau jingga senja. Suara bentakan dan tangis berkumpul sayup-sayup. Darah sesekali menciprat kelayar, kemudian bersih, kemudian menciprat lagi. Teriakan semakin keras.
“DARI MANA KAMU DAPAT SEMUA INI? DIAJARI SIAPA KAMU MINUM MINUMAN BEGINIAN?!!! DIAJARI SIAPA?!”
PRANG!
Seorang laki-laki tinggi tegap, menghantam seorang remaja berusia 15 tahunan yang berdiri di depannya dengan sebotol minuman keras.
“Bukannya diajari Otosan?” tanyanya tenang
Lelaki itu melotot. Meninju pipi anak itu sampai anak itu tersungkur untuk kedua kalinya.
“Otosan! Otosan, Lepasin kak Leo, Otosan! Lepasi kak leo! Kazi mohon!”
“DIAM! Lihat Nami, Pecun kamu! Nggak becus mendidik anak! Jadi brengsek semua anak kamu! Nyontoh ibunya yang jalang!”
“jaga mulut kamu, Ferdian!”
Scene 2
Seorang gadis berambut ikal. Tidak terlalu cantic. Gue kenal dia. Kenalkan, namanya iris. Iris vadista.
Sebuah café dipunggir jalan yang lenggang. Terpantul lembut oleh usapan cahaya matahari jam 2 sore.
“BRAKK!” “Apa??? Jangan gue!! Jangan sok baek! Gue tau semua orang disekitar gue! Munafik semua! Jadi, jangan lo kira gue bego!
Scene 3
Jam 2 siang. Dua orang yang sama. Kafe yang sama. Waktu yang sama di hari yang berbeda.
“Kamu kenapa?” Gadis itu memegangi wajah si laki-laki dengan gestur cemas. Si laki-laki melepaskan genggaman gadis itu
“Ngaak apa-apa”
“Pasti ada apa-apa”
Scene 4
Laki-laki itu terkekeh hangat. Mulai pudar keunguan. “ Ternyata ngobrol sama kamu asyik juga ya”
“tidak ada yang mau repot repot mengajak gue ngobrol dengan perjuangan selama itu”
“Nggak penah punya temen?”
“Terlal berbahaya”
Scene 5
Segala sesuatu yang baik, selalu pergi cepat. Seperti bensin yang Cuma sekali kedip, lalu hilang dari dunia. Gue nggak bias mencicipi kebahagiaan dari gelas pertama yang iris sodorkan. Setelah meninggalkan kafe tempat kami bertemu setiap hari itu, dia ironisnya… mati. Tertabrak mobil, katanya. Mati ditempat, di tengah hujan.
Scene closing
Rumah bergaya eropa itu lagi. Muram tertimpa hujan.
“PERGI KALIAN KENERAKA! PERGI KALIAN!” teriak remaja laki-laki itu sambal mengelap darah di bibirnya.
Bahkan dalam mimpi, akan selalu ada orang yang kamu benci sepenuh hati. Bagi gue, itu adalah ayah gue sendiri. Dialah yang membangkitkan iblis dalam diri gue. Dialah alasan utama gue senang tertawa. Dialah sebab gue mau berkumpul dan berbohong sampah bersama orang-orang yang gue benci. Dialah latar belakang gue mau repot-repot pergi dari rumah untuk memulai hidup laknat baru…
Hanya Karena gue ingin orang-orang tahu gue anak bahagia. Yang penah diperlakukan seperti binatang dan dilidahi ayah sendiri. Yang kuat. Yang kebahagiaanya nggak tergantung siapa-siapa. Yang selalu tersenyum. Yang bias balik meludahi mereka. Yang berdiri di atas kepala mereka
Gue berteriak dalam sunyi
V.           Bab 5 : Do I Know You…?
Triruriiiit… triruriiiit…
“Hah?” Leo, terbangun dengan terengah-engah. Memegangi dadanya, gusar. Gosh… kapan gue berenti dikejar mati?. Dalam kelegaan sekaligus kecemasan yang mendengarnya saat itu, Leo menoleh ke arah hp disebelah kepalanya, yang tak henti-hentinya bergetar dan bersuara membangunkannya. Dengan sekali sergap, tangan cowok itu menekan tombol reject hp-nya. Leo meluap lebar. Tangannya menggarap hp itu lagi. Masuk ke kode SMS.
Ok, ok, I’ll wake up. Arigatoo, Kazi. Atama ga itai desu…? Send
Kakanya belum juga datang memberinya uang. Entahlah, mengapa kakanya bias seekstrim ini. Kakanya, Cashey, selama ini selalu mencukupi kebutuhan Leo di tempat kaburnya sebisanya. Stastusnya adalah sumber pemasukan Leo yang utama. Awalnya memang leo yang kerja serabutan untuk membayar sewa apartemennya all by himself--- Karena ia pemegang teguh “yang gue andalin didunia ini Cuma diri sendiri”. Uang yang diberi cashey tidak berlebihan, pas-pasan banget malah, leo tetap tidak mengerti mengapa cashey tiba-tiba menyetop subsidi danannya 2 bulan terakhir.
Leo menuruni tanggal lantai 2, tinggal satu lantai menju kamar mandi umum. Sunyi, sekelilingnya sepi. Dan ketika akhirnya ia sampai di depan kamar mandi umu tersebut, lalu menemukan figure seorang gadis berambut ikal tersenyum menatapnya, Leo jadi teringat : hari ini ia ingin menemui reinkarnasi orang didepannya ini.
***
Pagi hari selalu jadi kotak cokelat yang menarik untuk dibuka bagi leo. “Spiza?” gumam Leo, mematung ditempatnya. Ya, spiza, gadis itu berjalan masuk sekolah pagi ini setelah seminggu sebelumnya mencoba bunuh diri di kamar mandi. Ia sibuk mengatur rencana untk mengatur bicara dengan spiza istirahat nanti.
Cewek belagu bego tukang bunuh diri dimasukkin iris… darn…, tulisnya kesal. Diliriknya luthfi yang tadi setahunya sedang membaca komik Naruto, sekadar memastikan luthfi tidak melihatnya mencoret-coret kertas begitu. “Lihat apa lo?” “Apa ya? Nggak, ngeliat kuman di tangan lo,”
“ Sial, gawat kalua dia tau…, piker leo panik”
“Nggak”
“Ngomong ngomong, katanya si spiza yang bunuh diri itu dateng ya?”
“Iya. Busetlah. Gue denger sih anaknya emang aneh. Nerd,” “ Lo ngebet ma dia, le?”
“Jelas, kan? Istirahat ini juga gue kawinin tuh cewek!”
Leo bergegas pmemasuki ruangan agak kecil itu dan mengscan seisi ruangan, mencari keberadaan spiza. Dan setelah matanya berjinjit ke seisi ruangan, akhirnya ia menemukannya. Misi dimulai.
Coba gue tes apa lo beneran iris…, batin Leo, tidak melepaskan pandangannya dari cewek itu. Tangan Leo menghentakan sebuah barang ke ujung sana.
BUGGG!
“APA SIH?” Pekiknya, bangkit dengan suara gedebuk keras
“Kena 100 dolar! Hahaha, canggih mampus! Gue ternyata sangat berbakat nyambit orang ya? Hahaha, coba sandal jepit, bias lebih chaotic tuh reaksinya!” kata leo ceria
“TERSERAH!” spiza melemparkan bukunya yang penuh debu ke wajah leo.
“Kesel ya… hehehe…,” godanya.
“MAU LO APASIH?!”
“Huh… pertanyaan sulit. Gimana kalua kita mulai dulu dengan intro-intro percakapan yang manis…, Ng… apa ya? Oh ya. Spiza, spiza suka susu, nggak?
“SUSU?!”
“Susu-supatu…,” senandung leo, mengarahkan sepatu converse-nya yang masih berada di meja tersebut ke wajah spiza. Dalam satu gerakan lembut nan ganas, diacungkannya pensil yang tajam ke depan mata leo.
“Satu kata lagi, gue majuin pensil ini. Lo denger?” bisiknya. “Nggak usah bikin macam-macam lagi. Gue punya aturan main sendiri, Leostrada…”
“Alaah, Cuma berani maju segitu! Ayo tusuk! Tusuk aja! Kita buat hujan darah di sini!” kata leo enteng.
Perlahan leo mendekatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu. Face to face. Spiza kentara kaget juga melihat ekspresi ‘baru’ leo itu.
“Lo benci gue, hanya Karena gue nyelametin elo?”
“ya”
“sekarang gue tanya, tahu apa lo tentang mati, hah? Tahu apa lo tentang kesakitan, tidak bias bangun, pain, wound…?”
“Gue tau segalanya tentanf itu! HIDUP GUE LEBIH SULIT DARI ELO! ORANG BAHAGIA SEPERTI ELO NGGAK AKAN NGERTII!!!”
“SEKARANG ELO YANG SOK TAU”
“Maaf,” Bisik leo akhirnya, mengucapkan kata-kata yang ingin ia sampaikan sejak tahun lalu. “ Maaf ya. Sampai jumpa besok”
VI.        Bab 6 : Teka-teki mengenai spiza dan cashey
Tiruriiitt…
“HAH!” Pekik leo kaget. Terengah-engah. Mimpiburuk lagi.
BUG!
Dan belum cukup semua itu, tiba-tiba sebuah tinjuan melayang ke dahinya. “Aaaaargh! Siapa lo?!” Leo mengelus-elus dahinya, bangun dari tempat tidur. Memicingkan mata, memfokuskan diri untuk mengidentifikasi. Buram. Dan
“WAAA!” wajah kakanya mengagetkannya, persis aming di iklan kartu As “Ayam lo…” umpatnya, melemparkan bantal. Cashey tertawa lebih keras. “Kak, udah bangun? Apa kabar? Maaf ya telat nge-misscall…”
“Kazi?” konfirmasi riang.
“Hai Kaz, Hai cash…” Leo mengangkut tanganya dengan enggan. Cashey dan kazi tertawa.
“Lo datang, gue senang. Cuma sayang, apa lo bawa uang”
“Dasar lo korban perang, gue datang mikirin uang. Apa lo tenang, sayangkalo ternyata dompet gue….” Cashey mengeluarkan dompetnya, membukanya. Penuh uang, ternayta. “gersang?”
“Jujurlah padakuuu…..”
“Hahaha… iya deh, nih!” Cashey menyerahkan beberapa lembar 50 ribuan bagi leo. “Eh, gue haus nih Le. Ambilin minum dong”
“Oki doki!” sambut leo berjalan ke luar kamar.
“Kakak… Pulang saja…,” isaknya sedih. “kakak… kan punya Kazi, punya kak cashey.., kazi ga tahan liat kaka begini…”
“Silahkan tes gue, cash. Gue bias bertahan. Selama gue hidup, gue nggak pengen pulang…,” bisik leo
“End of discussion. Pulang sekarang, udah, terima kasih pada seluruh hadiri yang udah datang, thanks for saving me this day.” Sambal mendorong mereka berdua keluar.
***
Hari-hari berjalan lambat bagi leo, namu ia sudah cukup bersyukur akan keadaannya sekarang ini. Kata-kata bahwa ia pecundang yang tidak pernah bahagia, menggedor hatinya. Leo baik-baik saja jika kebetulan disiksa. Leo tidak apa-apa jika kebetulan darahnya memang pembayar nafsu mereka; mereka yang “membuat”-nya, mereka yang memberinya makanan dan baju. Disekolahnya, anak-anak lain kerap mengatainya. Bahwa, ibunya wanita tuna susila dan ayahnya hidung belang.
Leo bias tahan semua itu, tapi kalu di sebut tidak akan bias bahagia…., Bagi leo, bahagia adalah harapan yang ia simpan diam-diam dan ia tidak akan mau menerimanya bila kenyataan berkata ia tidak akan pernah bahagia.
Malam minggu-nya tetap menjadi malam yang indah, dimana kevin, david, luthfi, serta adi, berpiknik ria di kamar leo. Kegiatannya beragam, sangat beragam. Tidak ada tempat hang-out terbaik, selain apartemen cowok itu. Mereka menyebutnya pentagon.
Pentagon seperti yang kita tahu adalah markas besar kemiliteran Amerika yang tentram dan aman. Begitu juga mereka. Apartemen leo dipilih Karena ke amanan dan ke tentramannya dari cegatan ortu-ortu rese. Leo memang berada di antara mereka, tapi ia jarang total nge-blend bersama mereka. Sebab di matanya, mereka bukanlah apa-apa. Mereka masihlah boneka-bonekanya yang bias ia mainkan sesuka hati.
Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan makhluk macam apa…, Leo benci mereka. Mereka hanya alat untuk tampak bahagia dan direspek, sementara hal-hal yang mereka punya tidak ada yang membuat leo terkesan. Apa? Ribut. Sok. Berisik. Ia tidak suka keramaian tidak terarah semacam ini, apalagi dikelilingi orang lain segala. Leo suka kesunyian. Leo suka menyendiri. Di sisi lain, ia juga suka berbohong seperti ini. Dan setelah mereka puas, mereka pulang jam 11 malam tepat.
VII.     Bab 7 : Sesuatu dibelakang Leo
Setelah mendengarkan ocehan kanan kiri pak Hikmat mengenai pentingnya absensi kehidupan pelajar, leo akhirny bias keluar dari ruang BP dengan damai. Sejenak pikirannya melayang pada dua hal : Luthfi dan spiza.
Yang pertama luthfi, teman  sebangkunya kini entah kenapa kelihatan pendiam sekali, Karena sudah tidak tahan lagi, pagi itu leo memberanikan diri bertanya pada luthfi tentang tingkahnya itu
“Lo diare, ya?” luthfi yang aneh masih juga membaca buku
“Nggak,” jawab luthfi singkat
“Coba gue tebak, ada maslah ama si Sylvia kemari ya? Lo mulai kayak gini sejak waktu itu”
“Ah, pinter,” sahut lutfhi
‘NAPA tuh orang? Leo bertanya-tanya lagi soal luhfi sepanjang koridor. Dan ketika ia mencapai ujung koridor, leo reflex menghentikan laju kakinya. Sekarnag kemana? Satu-satunya orang yang paling ingin ia temukan sekarang adalah spiza. Tapi, dari  mana ia bias mendapatkan alamat spiza? Leo nyengir, lalu membalikan tubuhnya. Segera ke tata usaha untuk mencari data. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti di tengah lapang basket, ketika dua sosok menarik matanya ke ujung lapangan.
Diujung lapangan, tampak luthfi yang sedang tertawa dan berbicara akrab dengan tyo. Ngapain mereka? Keparat…. Penghianat… si luthfi…., umpatnya sambal jalan ke orang itu. Leo tertawa.” Fyuh… gue akhirnya ngerti kenapa lo diem aja, fi,” katanya. “Ckckck… teman yang serasi. Leo terbelalak. Seketika tawanya meledak. Leo berhenti tertawa, kemudian berjalan cepat menuju ruang TU.
Beberapa lama kemudian, leo akhirnya mendapatkan alamat spiza dengan mudah dari tata usaha. Ya, semua terasa beres, sebelum ia tahu medan rumah macam apa yang sedang ia masuki. Ia memutar otak. Terpikir untuk masuk diam-diam. Tapi, lewat mana? Diputarnya pandangannya ke sekeliling. Pagar rumah spiza cukup tinngi, dan  memang ada ujung runcingnya. Ia langsung mencoba memegang erat tasnya dan mencoba memanjat ke atas pagar.
BUG!
Leo akhirnya bias mendarat juga dirumah spiza, walaupun dengan posisi yang jauh dari sesuatu yang enak.
GUUUK!!!
BUSET… GUUUKK!! (Serbu)
Seekor anjing sedang dengan girangnya berlari kearahnya. Leo ngibrit.
SIAL! Leo akhirnya dengan penuh kekhidmatan langsung naik ke pohon terdekat dan menggantung di rantingnya. Tidak tersa, ranting tempat ia menggantung itu, ternyata sepantaran dengan balkon lantai 2. “ Ngapain lagi kesini? Gue pikir semuanya dah selesai ya? Nggak liat nih?! Liat tangan gue!”
Mulut leo sedang terbuka setengah senti, ketika si gukguk kembali menghancurkan suasana dengan suaranya yang segede kingkong itu. Spiza sontak keluar dari rumahnya dan ternganga melihat leo ada di pucuk pohon rumahnya
“Leo?” gumam spiza heran. “ Dari semua manusia yang ada di dunia, kenapa harus elo yang ada di atas pohon gue” tanyanya
“Because I do.” Leo mengangkat bahu cuek. “Dosa?”
“Za, lihat layang-layang gue di sini nggak?” tanya leo jenaka.
“Layang-layang buat apa…,” balas spiza sedih.
“Buat ngerujak?”
“BRAK! Leo terjatuh.
***
Leo saat ini akhirnya duduk diruang tamu spiza. Sema lukanya sudah di plester oleh spiza dan ia merasa cukup baikan. Spiza membuka pembicaraan. “Sayang , masih hujan. Gue ngegantungin teru-teru bozu di pohon yang elo naikin tadi.”
“Mau bunuh diri lagi? “ Gue juga benci hujan. Hujan tuh bias bikin gue mati,” tutur leo.
“Aneh” Spiza menggerang
Leo tertawa. “Aneh kenapa?” “Katanya harapan itu ada…. Katanya, teru-ter bias membuat hujan nggak turun…,” isak spiza
“Kata siapa?” “BULLSHIT SEMUANYA!!”
“Emang nggak”
Leo ingin bicara bahwa ibunya menyukai sebuah film berjudul sound of music yang dimaikan Julie Andrews. “Ibu lo kenapa?” “Gue penah denger dari film, katanya kalua kita sedih, mending nginget hal-hal favorit kita za,” “ Dari pada kita ngomongin hal-hal tidak menyenangkan kayak gini. Apa favorit lo?” leo mulai riang.
“Maaf gue ga punya favorit”
“ya. Ah! Ge tau! Favorit lo pasti jaket! Hahaha…,” Leo menepuk bah spiza keras--- tertawa seperti anak kecil.
“Omongan kita mulai nggak bener, huh? Napa gue meracau deket lo?”
“Entahlah. Poin dari bertamu memang katanya bicara hal-hal yang nggak penting.” “Kenapa lo kesini?”
“Gue kesini ma minta maaf…, Gue nyemptor elo tanpa sebab waktu itu. Kasar banget, untuk ukuran dua orang yang baru kenal di perpustakaan. Gue minta maaf ya?”
“Elo… jangan-jangan elo mikir gue syok berkepanjangan gara-gara lo semprot, terus jadi sakit? Terus nggak sekolah gitu?”
“Lo beneran gak takut gue, gue gangster lho,”
“ Gengster dari bulan! Sejak kapan lo jadi yakuza? Nggak nampang ya”
“Nggak mustahil, Lo aja jadi ketawa gini”
“ Lo flirty abis ya.”
“ Ngomong-ngomong ortu kemana?”
“Dua-duanya udah meninggal sejak gue dan kakak gue kecil.”

***
Langit mulai gelap. Gelo meyetir mobilnya ke sana kemari sejak sore tadi. Ia mungkin biasa kesakitan, tapi tidak sesakit ini. Leo berusaha menangkis pikiran tersebut, tapi pikiran itu datang lagi. Iris Leo. Yang sudah meninggalkannya. Mata leo memicing sedih. Membuka dashboard-nya. Mengambil barang yang ia bawa dari dapurnya barusan. Leo meyentuhkan pisau it uke tangannya. Perasaannya bergebyar. Takut. Sedikit sedih. Sedikit bahagia. Death will be the end of my pain. The freeze. Namun, ia juga mulai menangis. Mengeluarkan seluruh unbearable painnya. Tangisnya bersatu dengan darahnya.

VIII.  Bab 8 Sebuah pengakuan…
Ada sebuah film yang pernah leo tonton beberapa tahun lalu. Judulnya Elephant. Hal pertama yang leo ingat tentang film ini adalah shot-nya yang aneh.
“Stop, stop, oke?” desi Leo. “Ya, gue suka Matematika. Tapi, gue nggak suka ngomongin Matematika.” Leo terdiam sejenak, lalu bersiul sambil menatapi Sylvia atas bawah, “Kenapa sih lo nggak ngomong aja soal kapan lo bisa gue pake?”
“APA?!” Sylvia terbelak, tidak percaya atas apa yang diengarnya. Kakinya mundur dua langkah menjauhi Leo. Jijik. Sekejap wajahnya yang putih memerah. “Lo kurang ajar, tau nggak sih?!” Gue bukan cewek kayak gitu!” Kemudian, ia berlari masuk ke sekolah sambil menagis.
“Cewwk nggak suka sama cowo munafik, kawan-kawan,” ujar Leo sok dramatis. Ia segera masuk ke koridos menuju kelasnya. Tidak peduli. Sepanjang perjalanan, beberapa cewek kedapatan memandang jijik padanya___sepertinya mereka menyaksiakan kejadian Sylvia tadi. Kelas Leo sudah cukup penuh hari itu. Luthfi juga sudah datang. Leo dengan langkah tenang duduk dan menyimpan tas di sebelh cowok itu.
“Pagi,” sapa Leo tak acuh.
“Pagi,” jawab Luthfi tak acuh.
“Gue tadi ketemu Sylvia lho,” uajar Leo tak acuh.
“Udah tau,” jawab Luthfi tak acuh.
“Tapi, lo nggak tahu kan dia ngasih salam buat elo?” kata Leo tak acuh.
“Nggak usah bohong.” Timpa Luthfi tak acuh. “Gue tau lo ngelecihin dia di depan orang-orang. Barusan cewek-cewek tereiak-teriak ngomongin. Brengsek lo.”
“Lo kemarin juga bohong,” desis Leo tak acuh.
“Bohong sebelah mana?” tanya Luthfi tak acuh.
“Lo nggak bayar duit geu ke Tyo, gue tau,” jawab Leo tak acuh. Mereka sedang tidak ingin saling mengacuhkan.
IX.         Bab 9 Love. At Any Cost…
Sebuah sore mengejutkan bagi Spiza di hari itu. Setelah sebelumnya juga mengadakan kunjungan dadakan, Leo kembali datang kerumahnya dengan cara yang sama. Ia tiba-tiba di balik pintunya, dan langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa bicara apa-apa. Tidak banyak percakapan yang terjadi di anatara mereka sejak Leo dipersilahkan masuk DENGAN DAMAI ke rumahnya. Leo menginjakkan kaki di ruang TV, menidurkan dirinya di sofa ruangan itu, dan... sudah! Tanpa bilang atau minta izin apa-apa. Ia tertidur dengan lelap, dan tidak terbangun sampai sore menjelang. Padahal Spiza sejujurnya sempat beberapa kali menegecek sofa itu, asyik mengamati cowok itu diam-diam.
***
Pukul 5.30 PM tepat, Leo terbangun__ dan ajaibnya sehat-sehat saja. Cowok itu kaget sendiri mendapati dirinya dirumah Spiza. Leo membanting tubuhnya kembvali lagi ke sofa. Kemabli tertidur. KRING! Telepon di rumah Spiza berdering kencang mejelang petang. Gadis itu, yang saat itu sedang membuat secangkir susu di dapur, langsung mengehentikan kegitannya dan berlari ke arah telepon yang berada di sebelah sofa tempat Leo berbaring. Spiza mengangkat telepon tersebut cepat-cepat, takut Leo terbangun.
“Halo?” katanya, sambil mengeriling pada cowok yang ternyata sudah terbangun.
“Halo, ini Nak Spiza?”
“Betul. Maaf, ini siapa, ya?”
“Ibu Stella, Nak...,”
“Oh, Ibu...,”. “Ada apa dengan Stella, Bu?” tanya Spiza, lebih tenang.
“Stella kemarin mencoba bunuh diri lagi, Nak.... Dia makan 5 obat tidur sekaligus... Ibu... saat itu untungnya menemukan dia sebelum semuanya terlamabat... Tapi..., Tapi dirumah sakit... dia malah marah Ibu selamatkan... Dia malah....”
“Kenapa Stella mau melakukan hal selaknat itu, Nak? Kenapa? Apa dia cerita sama kamu? Kenpa dia mau mati, Nak? Kenapa? Kenapa? TOLONG BILANG SAMA IBU! TOLONG! Jangan smeubunyikan lagi.
Leo lama-lama tidak tega juga mendengar isakan keras Spiza dari dapur sana. Ia bergegas melangkah kakinya melalui lantai-lantai yang dingin, menuju dapur, dan berhenti di smaping gadis itu.
“Udahlah...,” katanya, ikut berjongkok bersma Spiza. “Nggak tega gue liat elo nangis bawang kayak gitu. Jelek tau.” Leo memukul kepala Spiza pelan memakai kepalan tangannya. “Gue udah berantem ama orang, dikhianatin, nggak nagis tuh.”
Spiza tidak menanggapi kata-kata Leo tersebut. “Temen gue bunuh diri,”
Jangan nangis, Ris....
Leo melenguh. Senyap lagi. Suara tangis Spiza membahana, membuat Leo impuls merangkul gadis itu dan berkata spontan, “Aaah... Nonton SpongeBob di TV aja yuk. Patrcik nungguin lo, Za.”
“Hehehe...” Tiba-tiba Spiza mengangkat wajahnya, terkekeh dianatara tangisnya.
“Nah, begitu aja terus. Culun banget lo jadi cewek,”
***
Pagi. Derai lembut udara mengembus pelan ke dalam ruang tidur rumah Spiza. Namun Spiza telah berjaga lebih awal dari biasanya. Ia terbangun subuh tadi, ketika hujan yang begitu ia benci turun ke muka bumi. Kini matahari telah datang.
“MAAFIN geu, Za...,”
“Leostrada brengsek,” maki Leo. “Gimana kalau lo sampe___”
“Nggak,” potong Spiza cepat-cepat, “gue rasa gue nggak akan sampe punya anak. Kita nggak sejauh ini kan?”
“Gue rasa,” komentar Leo ragu.
“Gue sendiri di rumah, terus nangis, terus cuman barengan lo berdua...,” Suara Spiza beregtar. “Dan___”
“Jangan nangis lagi Za,” potong Leo, memegangi kepalanya makin erat. “Gue nggak tau lagi harus gimana ngadepin hal begini...”
X.            Bab 10 The troble with love…
Suatu pagi yang cerah di bulan Desember akhir. Para siswa-siswi Wahutri sibuk membicarakan rencana mereka untuk tahun baruan nanti. Satu hari lagi 31 Desember. Semua orang membuat plannersendiri untuk menceriakan hari terakhir mereka di tahun ini. Semua, tidak kecuali Leo dan kawan-kawan.
“Gimana kalau kita dugemaja?”tawar Adi sambil menyeruput es jeruknya saat mereka berkumpul dikantin istirahat itu. Kevin, David, dan Luthfi sontak menunjukan wajah tidak rida, seakan bertanya dengan wajah mereka, “Buat apa?”. Sementara Leo yang masih belum sembuh “luka hati”-nya, sama sekali tidak nimbrung pada percakapan mereka. Matanya sibuk menerawang ke... kamar mandi.
31 Desember. Siang sebelum tahun baru. Sesampainya di sekolah, Leo langsung duduk menghampiri Luthfi yang sudah duluan menempati bangkunya. Pagi ini, cowok manis hitam itu tumben-tumbennya baca koran dalam waktu kosong menunggu bel masuk. Leo menyimpan tasnya dengan alis terangkat.
***
Leo dalam gestur malas-malasan berjalan menuju kamar mandi sekolah mereka untu keempat kalinya dalam beberapa hari terakhir. Tiga kali untuk mencari Spiza, dan sekali untuk menanggapi ajakan aneh Adi ini. Namun, ketika Leo membuka pintu kamar amndi lalu masuk ke dalamnya...
“Spiza...,” guma Leo tercekat.
Spiza yang sedang merapat ke dinding, berciuman lekat dengan Adi, melirik Leo kaget. Adi segere melepaskan tubuhnya dari Spiza dan balik menatap Leo. Cowok yang tadinya masih malas-malasan itu kini mematung di tempatnya berdiri, melotot tidak percaya. Menepalkan tangannya yang basah. Apa-apaan ini?.
Leo sempat mau memukul Adi, tapi diurungkan niatnya. Kemudian pergi ke kamar mandi dalam langkah cepat.
“Ternyata memang karena elo, ya Za,” gumam Adi mengelus wajah Spiza.
“Lepasin!” Spiza menampik tangan Adi. “Lo nipu gue! Lo maksa gue kesini dan sengaja nyium gue depan dia! Dasar brengsek!!!” pekik Spiza.
Adi tertawa tenang. “Terus? Lo mau apa?” tantangnya. “Yang penting sekarang gue udah yakin sama motif dia,” gumamnya. “Gue kira karena orang tuanya atau apa, tapi ngeliat ekspresinya tadi, jelas-jelas karena elo. Dia nggak pernah ngerasa terluka, kecualia sama hal-hal yang sangat dia peduli.”
“Peduli?” ulang Spiza terbata.
“Jangan sok bloon,” Nada suara Adi berubah kasar, tabiat aslinya.
“Apa-apa?” Spiza mengernyit.
“Denger ya, Spiz. Kalau elo berani nidurin dia untuk uangnya, deketin dia untuk dapetin mobilnya, atau apalah... Lo bakal nagis nanah minta dibatalin hidup!”.
“Hahaha... Kok yang gue lihat, malah elo yang sangat care sama dia, ya?” sindir Spiza.
Adi tertawa lagi dalam intonasi dingin.
“Lebih care dari apa pun yang pernah lo lihat, Za.”
***
Arena balap mobil, Dago. Menaymbut tahun baru, arena tersebut tamapak ramai dijadikan tempat nongkrong anak muda Bandung. Namun, sementara Kevin, Luthfi, David, dan Adi sudah siap di sana, Leo nyatanya belum juga datang.
“Tuh anak kok nggak datang-datang, ya?” keluh Luthfi sambil melirik jamnya. “Udah jam 10 nih! Apa ketiduran?”.
“Paling tidur heh. Si Leo kan pelor heh, nempel molor,” timpal David.
“PERGI SANA BANGSAT!” terdengar suara yang sangat Adi kenal dari radius satu meter tempat mereka berdiri.
“Eh dasar berondong ngehe lo!” balas suara lainnya.
Ternyata telah terjadi pertengkaran di sana. Empat orang cowok usia kuliahan, sedang adu mulut dengan seorang laki-laki yang membawa Escudo-nya. Leo. Adi melebarkan matanya. Kok Leo bisa disini?
“Jangan mentang-mentang lo empat, gue seret ya. Sekali gampa juga, lo semua paling rata. Banci lo! Pengecut!” teriak Leo nyolot, khasnya.
“Eh, dasar sial lo...” Salah satu orang dari geng mahasiswa itu maju merangsek tubuh Leo. Leo tentu tidak tinggal diam dan balas menubrukkan tubuhnya. Dari situ suasan makin panas. Empat mahasiswa tersebut akhirnya terlibta perkelahian sengit dengan Leo. Saling meninju, menendang.
“Berhenti!berhenti!” teriak Kevin mengacungkan jempolnya. Tidak ada yang memedulikan. Pertarungan tetap berlangsung. Bahkan terjadi dorong-dorongan brutal di antara mereka sehingga Leo terjatuh dari tempatnya berdiri. Beberapa kali terinjak.
Sial... Sial...,teriak batinnya mendesau-desau. Kemuddian, ia bangkit sambil mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Cutter. Sesuatu yang selama ini selalu dibawanya untuk persiapan kalau-kalau dirinya mau bunuh diri.dikeluarkannya cutteritu dan dalam sekali sergap, dihunuskannya cutteritu pada punggung salah satu orang. Orang itu beretriak ngilu, terjatuh. Segera teman-temannya menegerubunginya. Aspal berlumuran darah. Leo tanpa buang waktu segera memasuki mobilnya, kemudian meluncur pergi dari situ. Orang-orang jelas menahannya, namu Leo terus menginjak pedal gas.
Kenapa masalah sepele seperti saling senggolan mobil seperti itu membuatnya naik darah seperti ini? Membunuh orang seperti ini? Sekarang ia harus kemana?
Spiza...
“Spiza...,” Leo bergumam lirih, matanya panas.
Dengan segenap tenaganya, ia putar mobil itu ke tempat yang seharusnya dari tadi ia tuju.

XI.             Bab 11 The Day When fireflies Die...
Mungkin smpai mati pun Leo tidak akan pernah tahu mengapa malam itu ia kembali datang ke rumah Spiza. Namun tentu saja, walupun Spiza ada di rumah, ketika gadis itu membuka pintu, reaksi yang pertama muncul adalah langsung menutup gerbangnya secepat kilat. Dan Leo mengantisipasinya dengan menahan laju gerbang itu, mengurungkan tertutup totalnya pintu menuju kewarasannya. Perbedaan kekuatan di antara mereka membuat Spiza melepaskan pegangannya, kemudian menrik Leo masuk.
“Boleh gue tidur di sofa lo lagi, Spiz?”bisik Leo seraya melonggarkan dekapnnya.  “Gue mau nunggu polisi datang di sana..,” tembahannya tersenyum.
Spiza mengangguk. Cowo itu bergegas merebahkan diri, menutup matanya erat-erat. Nyaman.amat nyaman. Sementara Spiza sendiri duduk di pegangan kursi sambil mengelus-elus dahinya. Menidurkannya.
“Nnyaman banget, Za...,” gumam Leo.
“Za?” Tiba-tiba Leo kembali bersuara dari balik punggungnya.
“Lihat sini, Za...,” Leo memanggil gadis itu
“Za... Dulu lo tanya perasaan gue sama Iris kayak gimana...,”Lamat-lamat suara Leo mulai serak “Dan gue mau elo tau, ini jawabn gue...”
Dinyalakannya batang korek api itu. Sebuah api merah kekuningan berpijar di ujung korek. Korek api itu pelan-pelan Leo tempelkan ke ujung foto. Membakar si foto jadi abu
Leo?LEO? MEMBAKAR FOTO... IRIS?
“Ini peasaan gue sekrang sama iris, Za. Benci. Gue cabik-cabik dia dalam hati gue gue maki-maki dia dalam mimpi-mimpi gue, gue katain, sumpahin...,” ujar Leo tenang. “Walau perasaan gue sama dia nggak bisa terprediksi tapi gue sekarang liat, gue bakar ini depan lo.”
“A... apa ini, Le? Ini... maksudnya...”
Leo tersenyum. Ia geleng-gelengkan kepalanya gemas. “Gue bakar dia.”
“Le... Lo... Udah gila...,” Spiza menelan ;udah gelisah. Matanya bergerak-gerak takut.Spiza menahan tangisnya, berusaha kelihatan tetap kuat. Sesekali ia mengucek-ucek kelopak matanya, menghapus jejak-jejak air mata yang ada di sana. Namun, ia gagal. Air mata itu selalu datang dan datang lagi setiap kali ia menhapusnya.
Leo terpana, membalikan badannya, lalu mmukul sekera-kerasnya pintu keluar rumah Spiza.
Sirine polisi berdering di luar sana.
XII.          Bab 12 Midnight Dinner...
“bagaimana peristiwa awalnya?” tanya polisi gempal itu smabil menatap Leo lekat-lekat. Suasana hening segera tercita, memenuhi segenap ruangan kantor polisi tersebut. Sementara Dvid, Kevin, Luthfi dan Adi duduk di bangku belakangnya, memandangi kaki=kaki mereka yang nyaris beku.
“Awalnya saya berniat ingin burai-burai isi kepalnya... Lalu, sis perutnya... Tapi, ternyata cuman kena punggung..,” jawab Leo balas menatap polisi di hadaannya dengan secerah kilatan ganas.
Si polisi terpaku bebrapa detik. “Oh,” sahutnya singkat “memang sayang. Apalgi korbannya selamat. Jadi sebenarnya ingin lebih buruk lagi, ya? Kalian sendiri kenapa bisa dikut pertengkaran itu?” tanyanya pada keempat orang yang duduk di belakang Leo.
“ehm.. sebenarnya... Sebenarnya kami disana karena kami yang duluan memulainya,” kata Adi mewakili yang lain.
“Memulai bagimana?” tanya si polisi.
“Kami membuat masalah jauh-jauh hari dengan ketiga mahasiswa itu. Kebetulan Leo yang sedang sendiri bertemu lagi sama mereka. Jadi Leo sebenarnya hanya membela diri,” kata Adi dengan ekspresi tenang. “Dia bukan sengaja menusuk orang itu.”
“Buktinya?”
“Buktinya...,” gumam Adi mencari alasan.
Luthfi menyela. “Buktinya 2 mahasswa isisinya malah kabur, kan?” berarti mereka ngerasa salah,” kilahnya.
Si polisi anggut-anggut. “Logis. Tapi, tetap saja kalian sudah bikin kekacauan,” katanya. “Jadi yaa... mungkin sekitar 1 Mingguan kalin dipenjara, dan lebih lama lagi untuk yang nusu. Tidak masalh kan?
“Telepon keluarga saya,” cetus Leo tiba-iba
“saya sudah menelepon semua orang tua kalian,” jawab si polisi. “Dan Leostrada, keluarga kamulah satu-satunya yang tidak menjawab. Jadi sampai mereka menghubungi kami, kamu akan tetap di sini. Mengerti?”.
Namun...
Kriiing... Tiba-tiba telepon kantor polisi berbunyi. Polisi yang malam itu sedang bertugas sendiri tersebut, langsung mengangkatnya. “Ya, halo?” sapanya.
“Dari Nyonya Nami Miyazao. Dia menunggu kamu di luar,” kata polisi itu.
Okasan? Leo tertgun sendiri. Okosan-nya ke sini mentelamtkannya?
“Terus , saya bebas?” tanya Leo seraya bangkit dari kursinya. Polisi itu mengangguk.
“Ntar kirim surat ke gue kalau udah sampe di penjara!” teriak Leo dalam perjalnananya keluar, sambil menatap menjauh dari teman-teamnnya. Teman-temannya nyengir pahit.
***
“Terima kasih ibunda sudah mau menyelamtkan Hmba. Tapi, Hamba mau pulang dulu ya,” pamit Leo begitu melihat sosok ibunya berdiri didepan kantor polisi. Medengar tanggapan dingin dari Leo, ibunya menyuruh tetap tinggal. “Ada apa lagi, Okasan?” tanya Leo gemas, ingin buru-buru pergi.
“Selamat tahun baru, Leo,” kata ibunya setengah mendesis.
“Oh...,” Leo terperanjat.
“Mau pulang kemana sekarang?” tanya wanita itu.
“Ke rumah.” Jawab Leo simpel
“Rumah mana?” Wanita itu mencengkeram Leo makin keras, seperti cengkeraman elang pada buruannya.
“Rumah Leo, tentu saja,” jawab cowok itu.
Okasan ingin kamu ke rumah kita dulu. Ada yang perlu otosan kamu bcarakan sama kamu,” katanya memrintah. Leo menaikkan ujung bibirnya keki. “Sekarang Cashey, Kazi , dan Ferdiaono sudah menunggu kita. Kamu sebaiknya datang,” imbuhnya.
Leo mengangkat kedu tanganynya. “Ibu, Leo mau pulang. Terima kasih atas bantuan uangnya, nanti Leo ganti,” kata Leo sembari tersenyum. Bersiap pergi. “Permisi.” Ia melewati wanita itu tanpa bicara lagi.
Tapi sebelum ia sempat membuka kuncinya, ibunya utuk bergumam lagi, menolehkan kepalanya
“Sifat kamu makin kurang ajar ya, eh, Leo?” katanya, menyilangkan tangan. Leo tersenyum. Siapa dulu ibunya...”
“Terserah pokonya kami ssmapai besok pagi akan tinggal dan bangun untuk menunggu kau. Dan itu, asal kamu tau, bukan keinginan Okasan. Otasan-muyang minta begitu “Yang benar saja, Okasan  mau meladeni tingkah sok aksi kamu itu. Liar. Pengecut. Okasan tidak pernah percaya punya anak macam kamu,” umpatnya, kemudian ia beringsut pergi dari hadapan Leo.
***
Jam setengah tiga pagi. Leo terpana di hadapan pintu apartemennya. Leo tidak eduli. Stau-sataunya yang pedulikan hanya pemandnagna “sedap” yang bertenger di depan matanya sekarang.
Apartemenya dibakar orang! Pintunya sudah lenyap, tinggal kayu-kayu hitam yang bercita bersama abu di bawah sana. Barang-barangnya habis. Untung ukaran kamar Leo kecil sehingga api tidak sempata merabat dan bisa cepat dipadamkan oleh penduduk apartemen.
Dan sialnya Leo tidak dpaat menduga siapa yang mebakarnya. Namun ia tidak bisa mengira-ngira yang mana yang melakukan ini. Dan yang pasti Leo harus mulai memikirkan di mana ia bisa tinggal sekarang. Dimana tidur di emperan tidur malam ini.
“Dibakar Le?” Tiba tiba sebuah suara menyahurnya dari pinggir.
“Ya, terus kenapa?” tantang Leo.
“Otosan beneran mau ketemu kamu lho. Nggak usah nginep sebentar saja. Dia bener-bener pengen ketemu kamu.”
Leo melotot menyadari sesuatu. “Jangan-jangan ini lo yang___” “Niat dia keliatannya baik,” Cashey memotong “Asal lo tau, Leostrada, nggak pernah ada lagi berantam-berantam di rumah kita. Keluarga kita udah lumayan fik sekarang. Sejak diberitakan di mana-mana itu,” bujuk Cashey lagi. Leo mengatup___ bukakan mulutnya, speechless. Cashey menaraik napas panjang. “Oke, bro, gimana kalau begini, gue akan ngasih lo apartemen baru, tapi lo datang sekarang kerumah. Gimana?”
Sialan, jebakan, pikir Leo kesal. Cowok itu mengacungkan jari tengahnya pad kakaknya. “Geu taruhan telinga gue. Pasti elo yang bakar, kan?” katanya, sambil menyeret Cashey menuju mobil Escudo-nya.
***
“Ayo cepat masuk, Le!” Cashey menarik lengan baju Leo sehingga mereka seperti berlari kejar-mengejar, segera mungkin masuk ke rumah mereka. Mereka baru berhenti ketika keduanya akhirnya mencapai ruangan utama
Tadaima...,” Leo nyengir mengucpakan kata “ aku pulang...” itu.
Okaerinasai...,” bisik Cashey sambil membuka pintu di tengah kedua tangga tadi. Okaerinasai artinya “selamat datang” .
“Pecundang Otosan sudah pulang...,” bisik ayahnya seraya terkekeh menggoda.
“Leo nggak pulang,” sergah Leo cepat. “Cuman terpaksa ke sini karena Otosan sudah repot-repot bakar rumah Leo.”
“Kakak...,” sambut Kazi, beringsut mendekat ke tempat duduk Leo.
“Leo Otosan ingin kamu kembali ke rumah,” seakan tahu Leo tidak benar-benar mendengarkannya. “Itulah maksud Otosan membakar rumahmu dan memanggilmu ke sini... Otosan tidak ingin melantarkan kamu lagi nak. Lagi pula Otosan tidak pernah lagi bertengkar dengan ibumu...___ ya kan, Nami?”.
Ibunya tidak menjawab. Otosan langsung melanjutkan cepat-cepat, “Jadi, bagaimana, Leo?”
“Bener nggak ada apa-apa, Kak,” tambah Kazi, berharap Leo terpengaruh.
“Kenapa Leo harus pulang?” tanya Leo.
“Kamu bisa menjalani hidpu normal, bisa ketemu orang tua kamu setiap hari, bisa banyak uang cukup... Masih kurang? Mau apa lagi? Otosan akan beri...,” katanya.
“SAHAM!” teriakan ibuya menggranat pikiran indahnya. “Saham keluarga Miyazao turun total sejak berita keluarga ini di gelar! Sejak merak tahu kamu kabur dari rumah! Sejak si brengsek tengik ini ketahuan kongkalikong dengan sekretaris laknatnya!” raung ibunya.
Ayahnya ternganga. “Nami...”
“DIAM!” geram wanita itu. “Kamu manggil Leo hanya untuk itu, kan? Hmmm? Agar selingkuhan kamu itu bisa diteruskan adem ayem di belakan saya, dan saham kamu naik lagi kan? IYA KAN? DASAR BINATANG!”
Ayahnya menggebrak meja. “SEPERTI KAMU NGGAK, JALANG?”
“TUTUP MULUT KAMU!”
“Kamu yang___”
“Hahaha...,” Leo tertawa terguling-guling. Ayahnya dan Ibunya menoleh bingung, begitu pula Cashey dan Kazi. “Ini semua sampah,” kata Leo sambil berdiri tergelak. Ditunjuknya satu-satu orang yang ada di sana. “Lepasin semua topeng kalian, berhenti jadi orang munafik, dan BIARIN GEU HIDUP TENANG!” teriaknya, berlari memukul pintu masuk sampai butiran-butiran kayu menyembur ke lantai.
XIII.       Bab 13 Para Ibu dan Rahasianya...
Pagi ini, ia mendapati dirinya berada di sebuh tempat yang sama sekali tidak ia kenali. Aneh, seingatnya ia tidur di mobil sepulang dari rumahnya. Mengapa tiba-tiba ada di tempat ini?.
“Sudah bangun, Le?” tanya sebuah suara dari depan.
“Okasan?” tanya Leo heran, penuh ketakjuban.
Ibunya mendekat ke arahnya dalam langkah anggun, kemudian duduk tepat di sebelahnya.
“Pusing nggak, Le?” tanya ibunya sambil memegang dahinya.
“Kalau begitu Leo mau pulang,” kta Leo bersiap berdiri.
“Kamu sudah tidak punya rumah lagi, Leo,” tegasnya.
“Terus?”
“Tinggallah di sini untuk sementara waktu.”
“Ya ampun gue lupa,” ujar Leo mengejek. “Terus kenapa Okasan mau menampung anak liar begini?”
“Karena anak liar itu anak kandung saya!” raungnya di luar dugan.
“Sejak kapan gue jadi anak Okasan?”. Mereka mengehntikan konversasi mereka selama beberapa waktu, dan wanita itu mendadak memeluk Leo erat.
***
Sepanjang hari itu Leo habiskan dengan tidur-tiduran di sofa sambil menonton acara tidak jelas di TV. Ibunya juga tidak pergi kerja, wanita itu menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku di raknya, bersandar di kasur.
Sampai akhirnya jam 2 tepat, hp Leo tiba-tiba berbunyi. Siapa yang sudih menghubunginya?
Ternyata dari Adi. Mengabarkan bahwa mereka berempat tadi malam sudah selamat dari kantor polisi. Adi juga bertanya, kenapa Leo tidak ke sekolah? Padahal katanya, Spiza juga sampai datang ke kelasnya untuk mencarinya. Ia cuam membalas “Rmh gw dibakar”, dan selesailah.
***
Leo berjalan ke rumah bercat putih itu, sambil memegang sebuket bunga Iris yang masih segar di tangannya. Dipandangnya gerbang cokelat berukir akar itu. Tangannya refleks menekan bel rumah itu dengan ragu-ragu.
“SIAPA?”
Leo membalikan badannya.
“Leostrada...,” bisiknya pelan, nyaris tanpa suara.
“Nak Leo,” panggil sebuah suara dibelakangnya. Dan mendapati ibu itu sedang berjalan ke arahnya dengan membawa dua cangkir teh hangat. Leo tersenyum soapan “Terima kasih.”
“Oh ya, sama-sama,” balas wanita itu ramah. “Silahkan diminum dulu.”
Leo mengangguk. Keduanya mengambil cangkir itu dan meminumnya.
“Maaf... ada keperluan apa ya, Nak Leo kesini?” tanya ibu Iris tiba-tiba.
“Ehm...” Leo mencoba menyusun kata-kata. “Sebenarnya... saya ke sini mau membicarakan tentang Iris,” sahut Leo pelan.
PRANG!
Di luar dugaan, cangkir ibu Iris jatuh tiba-tiba.
“Kenapa, Bu?” tanya gelisah. “Maaf... Maaf kalau___”
Ibu Iris mengibas-ngibaskan tangannya. “Ahhh. Sya tidak apa-apa... Tidak apa-apa...”
“IBU RINDU SEKALI SAMA DIA, NAK LEO...,” jeitanya pilu. “IBU SELALU RINDU SAMA DIA...”
Leo memeluk ibu Iris erat-erat. Dibiarkannya wanita itu menangis di pelukannya.
Leo tersentak.
“Ke... ke sini? Ibu tahu penabraknya?” Bibir Leo mendadak kering.
Ibu Iris mengangguk.
“Mereka selalu datang beberapa bulan sekali, Nak. Pertama kali sekali, mereka datang seminggu setelah pemakaman Iris...,” suaranya semakin pelan. “Mereka berlutut di kaki Ibu... Berkata mereka tidak sengaja...”
“Mereka anak-anak SMA Iris, Nak...,” Wanita itu berusaha keras menghalau air mata di pipinya. “Dan, seorang dari 103... Anak yang... Anak yang Ibu tampar mukanya... terjatuh... Ibu teriaki...”
Leo merasakan sekelilingnya berputar-putar. Jantungnya berdetak keras. 103?
“Kalau tidak salah namanya Spiza...” Napasnya terengah-engah. “Dan si Spiza-Spiza itu... dan teman-temannya... sampai sekarang tidak ibu maafkan.
“Bu...,” panggil Leo gugup.
“Ibu terus-menerus dibayang-bayangi Iris, Nak Leo...,” bisikinya gemetar. “Dia minta ibu memaafkan mereka...”
Jiwa Leo seakan berpisah dari raganya. Mata cowok itu mendadak kosong, kaget. Luar biasa. Spiza? Spiza-nya?
“IBU INGIN SEKALI MEREKA JUGA MATIII!!!”

XIV.        Bab 14 Dan Hujan pun Berhenti…
Leo jadi teringat sebuah quotes yang pernah didengarkannya dulu dari film Forrest Gump. Bahwa, hidup adalah sekotak cokelat dan kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan di dalamnya. Leo ingat segala macam, ia sangat yakin akan hal itu. Baru hari itu leo bisa membayangkan bioskop hidupnya tanpa harus tidur dulu. Segala kedipan memutar wajah seorang gadis berambut menjuntai dan bermata tajam.
Dalam film hidupnya itu, gadis itu tidak berbicara apapun. Kadang gadis itu tampak senang, kadang gadis itu tampak marah, kadang gadis itu tampak sedih. Leo tidak ingat kenapa bisa seperti itu. Karena potret tidak jelas itu langsung buyar saat bercampur dengan bayangan seorang gadis mungil bersenyum ramah. Si gadis berambut menjutai membunuh gadis itu di depan leo. Namun leo hanya tersenyum melihatnya. Leo nyaris tidak menyadari apapun ketika dirinya menuruni mobilnya, kemudian berjalan oleng kea rah apartemen, ibunya membuka pintu. Entah mengapa tiba-tiba saja kekuatan lututnya hilang, dan jatuh berlutut di depan pintu.
“Leo? Leo, kamu kenapa, sayang? Leo tidak menjawab “Leo? Leo, bangun, sayang…”
Tangan  pemuda itu reflex mencengkram ibunya. “Kamu bukan anjing, iris! Kam nggak usah mati! Gue yang anjing! Gue yang anjing” teriak leo tertahan. Wanita di hadapannya ternganga tidak mengerti.
“Leo?” tapi suara leo kembali mati. Kini ia mulai merasa ingin menangis melihat keadaan anak tengahnya ini. “Leo, Kamu---“
“Tinggalkan leo, Okasan,” potongnya tegas.
“Maksud kamu---“
“Tinggalkan Leo.”
“Tapi”
“Tinggalkan atau Leo bunuh Okasan!”
***
Sayangnya, itulah kata-kata terkhir Leo
Keesokan harinya, ia nyatanya sama sekali tidak berbicara apapun. Dari waktu dia pergi kesekolah, di jalan, maupun di dalam kelasnya sendiri. Tidak ada orang yang bisa menebak apa penyebab perilakunya ini. Bahkan Adi. Seumur hidup berteman dengan leo, tidak pernah melihat ekspresi seaneh ini.
“Halo, spiza?” spiza membelalakan mata selebar-lebarnya mendengar suara itu di hpnya.
“Ada sesuatu yang penting banget, yang pengen gue tanyai.”
“Gue nggak tau apa-apa…”
“Gue pengen lo tinggal di kelas lo ini pas pulang ntar, gue mau bicara.”
Jam yang ditunggu-tunggu leo akhirnya tiba. Cowok itu sudah bersiap di kelas spiza. Spiza masuk dengan terpogoh-pogoh, kepalanya tertunduk. Persis seperti orang yang akan menghadapi eksekusi mati. Spiza nyaris pingsan di tempat, saking besarnya tekanan leo padanya di ruangan ini. Keheningan yang leo ciptakan, menusuk telak mentalnya. Sejak saat itu mereka bertengkar hebat.
XV.           Bab 15 The last Deathmatch
Leo menjalannkan mobilnya dengan pikiran yang hanya setengah konsentrasi. Spiza… spiza… Iris… Akhirnya, gue sama sekali nggak bisa bareng sama satu pun dari mereka… Hahaha… Akhirnya gue sendiri lagi… Leo menghantam kaca mobilnya, mencoba menghantarkan kegelisahan dan kemarahannya saat ini. Dipasangnya lagu rock keras-keras. Dipasangnya lagu itu dalam volume tinggi. Leo ingin meledak sekarang juga. Leo mulai merasa segala hal yang ada di hadapannya, berubah menjadi begitu buram.
Dan kini, segalanya terasa normal, namun ia kehilangan segalanya. Kali ini leo baru berusaha tersenyum, berusaha memahami selera humor takdir. Ah, hidup. Kadang ada kesempatan kedua untuk melakukan hal yang sama.
Leo tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Amat tahu. Di putarnya setir itu ketepi, dan digasnya sekuat yang ia bisa, dan selanjutnya adalah menunggu. Menunggu suara derak indah itu, yang datang bersamaan dengan rasa pahit kematian. Menunggu berhentinya jarum roulette. Dimana ia akan berhenti.
Di tulisan hidup…
Atau tulisan Mati.
BRAKKK!

XVI.   Bab 16 Orang yang terkahir kali berdiri di sana
“Ibu Nami?”
“Ya?”
“Kami dari polsek… Mau meberikan sesuatu.”
“Ada apa?”
“Anda orang tua Leostrada Andhika?”
“Iya”
“Dia Kecelakaan. Sekarang di RSHS, di UGD. Harap segera datang.”
“Le… Leo, TIDAAKK!”
Tuut… tuttt. Tuuut…
***
“Si leo nggak ada?” luthfi terperangah.
“Iya nggak ada.”
“Ah… tuh anak bukan tipe yang cuman kayak gitu aja bolos deh”
“Assalamualaikum, selamat pagi semuanya,” suara guru BP mereka, menampar keheningan pagi “ saya hanya mau memberitakan sebuah  hal penting untuk kalian ketahui. Kemarin leo kecelakaan, dan sekarang sedang berada di RS hasan sadikin, Ruang VIP, nomor 209. Terima kasih atas perhatiannya, wasalamualaikum wr.wb”
          Leo membuka mata, kaget. Kilatan cahaya putih terang menyapanya kasar. Leo memandang berkeliling. Tidak ada apa-apa. Tidak ada juga mobinya. Kepalanya sakit. Badannya rasanya remuk-remuk semua
Sial… apa gue selamat? Pikirnya lemah. Sial tuhan selametin gue lagi… sial, leo meremas tangannya sendiri. Rasa penasaran memenuhi hatinya, wanita yang dulu sering meninggalkannya untuk pekerjaan-pekerjaannya, yang selalu asyik dengan petualangan cintanya. Sekarang melakukan hal-hal yang tidak dapat dia mengerti secara logika. Kalau begini, kenapa dia kelihatan lebih sengsara dari gue? Kenapa rasanya jadi gue yang jahat?
Leo pelan pelan menggerakan tangannya yang diinfus untuk menggapai ibunya. Dibelainya tangan keriput wanita itu. “Leo?”
“Senang melihat kamu bisa bangun lagi…. Ibu benar-benar khawatir sekali waktu mereka bilang kamu tabrakan…”
“Sekarang, apa Okasan sama dengan Adi dan spiza? Apa okasan juga kayak gini pura-pura? Okasan bakal ngekhianatin leo juga?”
          “Kenapa baru sekarang okasan?”
          “Mungkin Karena Okasan capek… jadi, Okasan ingin bersama Leo…,”
          “Begitu menurut okasan?”
          “Leo?” Tanya ibunya kaget.
          Leo tertawa kecil. Hentakan anehnya yang tidak leo mengerti. Untuk apa dia sedih? Ini sudah biasa. HANYA kehilangan orang tua seperti ini. HANYA itu. Bukan kah leo sudah kehilangan mereka berulang kali sejak dulu.
          “Sistem ini sudah terlalu kacau, Okasan?”
          “Semuanya tuh… udah digimana-gimanain juga nggak akan pernah bener lagi! Keluarga kita tuh udah rusak sejak berbelas-belas tahun lalu!” mata leo memerah. “Leo harap Oksan sadar itu!”

XVII.     Bab  17 life for rent
“Leostrada Andhika blablabla…”
“Absen!” Sahut luthfi cepat
“Hmmm…,” gumam anak-anak lain.
“Alpa?”
“…”
Luthfi hanya memandang lama bangku di sebelahnya yang kosong melompong. Lalu, dianggukannya pelan-pelan kepalanya. “
“Hmmm…,” gumam anak-anak lain.
“Alpa?”
“…”
Luthfi hanya memandang lama bangku di sebelahnya yang kosong melompong. Lalu, dianggukannya pelan-pelan kepalanya. “Ya, alpa”
Lo bagus dalam Bahasa inggris, kan le? Sekarang Bahasa inggris. Bagusnya lo pulang sekarang, luthfi membatin. Bayangan terakhir kali leo mencoret-coret kertasnya saat pelajaran yang amat disukainya ini, membias di matanya.
Cepat pulang le.
Siang. Penampilan perdana Bunch of Bastards tanpa leo. Semua oang itu menenggelam kan kepala mereka ke tangan, tanpa mengacuhkan makanan-makanan dan minuman-minuman yang tergeletak begitu saja di meja.
“Gue nggak nyangka saking desperate-nya tuh anak, sampe tabrakan gitu. Nggak bener deh! Nggak nyangka! Komentar kevin”
“Emang dasar tuh anak makin sini makin melodrama aja!”
“Najis abis sampe kaya gitu heh… si spiza emang ngapain dia sih! Heh?” David ikut-ikutan frustasi.
“ Beberapa menit kemudian acara sedih itu pun berakhir. Mereka terduduk kembali dengan tenang. Para audiens, yaitu para pedagang yang sedang mangkal di sana, menghela napas kecewa melihat adegan film drama itu berakhir.
Luthfi mengatupkan kedua tangannya, “Gue minta lo-lo semua jangan marah sama si leo… dia lagi desperate… Gue, walau nggak tau kenapa, tapi gue tau”
“Dia bilang sih spiza yang ternyata nabrak iris,” potong adi cepat. Ketiga temennya terperanjat.
***
Spiza tidak melakukan apa-apa di perpustakan ketika istirahat berjalan. Ia ke perpustakaan hanya untuk kabr dari orang-orang yang kemungkinan besar menghakiminya. Dan diperpus pun dia hanya tidur-tiduran. Di dekat kotak sepatunya. Spiza memejamamkan matanya sedih. Kenangan terakhir tentang dirinya dan iris itumenghantuinya lagi. Seperti ratusan malam sebelumnya. Seperti mimpi-mimpi buruk tentang hal itu yang berulang-ulang terus terus selama napasnya ada.
Kenangan yang selalu membuatnya ingin menangis setiap kali mengingatnya. Gue ingin seseorang, gue nggak ingin selalu jadi beban. Gue belajar lebih keras dari orang lain. Gue 200x lipat lebih rajin dari orang lain. Dan, gue jadi nggak peduli orang lain. Mereka terus ngeremehin gue.
Spiza secara reflex langsung memukul meja yang ada di depannya dengan lemah. Sebutir air. Mata menetes di pipinya. Dunia rasanya hancur. Ketenangan yang yang dulu dia rasakan, sekarang hilang. Tanpa bekas sedikit pun.
Kesalahan kecil seperti itu… kalo nggak ketemu mereka dan jadi “temen”
Kayak gitu, pasti nggak bakalan gini…
Spiza mendongak. Empat orang yang sangat dia kenal berdiri di hadapannya, memandanginya. Spiza meringis, ia lebih rela mendengar bisik-bisik orang lain dari pada bertemu mereka. Ia tidak sanggup.
Adi yang berada paling depan mengulurkan tangannya dengan perlahan kepada spiza.
“ikut gue, za. Plis.”
“Tentang leo?”
“Ikut Gue,” ulang adi setengah membentak. Spiza lunglai.
***
“Sekarang gue harus gimana?” potong spiza frustasi. “Harus mati nyusul iris? Ngebayar semuanya? Itu mau leo?” tanyanya keras.
“Oke.., Gue akan pergi dari hidup kalian…”
Eeny, meeny, miny… moe.



XVIII.Bab 18 Hal-hal yang leo punyai dalam hidup…
Leo berteriak kaget kaget saat ia bangun keesokan harinya. Peluh membasahi dahinya, sementara napasnya keluar satu-satu. Leo tertunduk, terkejut. Ia baru saja  bermimpi tentang okasan-nya. Mimpi yang aneh sekali Karena semuanya kelihatan tidak jelas. Cuma suara teriak dan seramnnya percikan darah.
Kepalanya yang dibalut perban kembali berdenyut, dan menimbulkan rasa nyeri yang tidak ringan. Leo mengerang. Leo menghela napas. Betapa normanya dunia.. digerakannya, kepalanya kesamping, mencoba mengecek keadaan okasan-nya. Tapi okasannya tidak ada,
***
Leo melebarkan matanya kaget. Jantungnya rasanya berhenti satu detik itu. Ibunya pergi, hilang. Kemudian, satu pandangan memfokuskan matanya. Surat. Satu surat putih meja kecil sebelah ranjangannya. Berjudul huruf balok besar-besar
Dari okasan.
Darah leo berdesir. Firasat tidak enak.
Apa yang terjadi?
Dengan perlahan -lahan, disegerakkannya tangannya ke meja, untuk mengambil surat itu. Jangan-jangan…, leo menggapai surat itu sebisanya segala pikiran buruk beraliansi di otaknya. Leo ketakutan. Sangat ketakutan. Ia sentuh pelan pelan permukaan surat itu.
XIX.        Bab 19 The Seconf Hand of Time
Leo berjalan terengah-engah kea rah ruang UGD. Ia putus semua selang infusnya, dan tidak dipedulikannya semua rasa nyeri yang menjalari kepalanya. Hanya nama mereka, dan pantulan terakhir wajah mereka yang dia ingat.
Leo ingin berteriak sekuat-kuatnya. Leo ingin menangis dan tertawa sekeras-kerasnya. Leo ingin terbang ke angkasa, dan langsung menjatuhkan diri secepat cahaya. Tapi, itu semua tidak membangunkan ibunya lagi.
Tidak akan pernah lagi.
Senyum itu, belaian itu, mata itu, semuanya telah mati.
Semuanya telah mati.
Ini semua Karena gue nggak percaya dia. Ini semua Karena…
“Leo…”
Leo menghentikan langkahnya saat matanya menangkap siluet yang sangat dikenalnya. Sosok yang membuat tubuhnya kian gemetar. Tubuhnya ringkih itu. Garis wajah tipis itu. Mata yang tidak pernah mengucurkan air mata setetes pun sejak kematian Iris, akhirnya kali ini berkaca-kaca. Sosok itu mendekati leo pelan-pelan  seakan takut leo lari menjauh melihatnya. Jelas leo tidak akan lari. Sebaliknya, dia akan lari ngejar sosok di depannya ini.
Leo berlari cepat ke arah sosok wanita itu. Dia merasa ingin tenggelam… setenggelam-tenggelamnya dalam pelukan mereka. “Maaf, okasan… maafin leo…,” bisik leo putus asa. “maafin leo, Okasan…”
Leo mulai gelisah. Ia ingin Okasannya berbicara sesuatu. Leo ingin Okasannya bercerita pada leo bahwa ini bukan mimpi. Bahwa ini bukan perpisahan terakhir mereka… tapi jawaban okasannya hanya tersenyum. Senyum yang mungkin tidak akan pernah bisa leo lupakan sampai kapan pun.
Kali ini leo benar-benar tidak tahu lagi bagaimana menahan ledakan dahsyat di otaknya. Ia pegangi tangan okasannya erat-erat, lalu ia tarik tangan keriput it uke dadanya.
“Bunuh Leo sekarang, Okasan…,” desis Loe marah. “BUNUH LEO SEKARANG!”
Ibunya hanya tersenyum.
“YANG PANTES MATI ITU LEO! LEO YANG BRENGSEK….
BLOON.. GILA…,” Leo mulai merasakan satu tetes air mata membasahi pipinya lagi.
“TUKER NYAWA KITA! TUKER AJA! BIAR OKASAN BISA HIDUP LAGI, BAHAGIA LAGI”
Sial….. Dia ternyata nggak bohong sama gue…. Dia udah lama ngelepasin topengnya depan gue… DIA SAYANG GUE! DIA SAYANG GEEEE!!!
Leo berusaha keras untuk menguasai dirinya.
“Leo juga sayang Okasan…,” Leo memeluk Okasannya erat-erat.
Tangisnya hampir pecah. Bibirnya gemetar. “Wa-walau telat, leo Cuma ingin okasan pernah denger itu dari mulut leo sendiri…,” Leo mengusap tangisannya. Leo memejamkan matanya dengan pasrah. Cengkramnya semakin erat.
***
Leo, kazi dan chasey berdiri di sebelah ayah mereka siang itu. Matahari menyorot panas jendela kamar rumah sakit, tapi mereka tidak merasakan kepanasan. Hati mereka seperti dicelupkan di es selama bertahun-tahun, sudah membeku dan mati rasa. Hebatnya, diantara mereka berempat, sejak satu jam yang lalu, tidak terjadi percakapan apa pun. Leo, kazi, chasey hanya diam sambal menatapi otosan-nya.
Mungkin tuhan ngebiarin gue hidup untuk ngerasain momen sekali seumur hidup ini…
Mungkin tuhan pengen nunjukin ke gue, gimana rasanya kembali disayangi orang-orang yang pernah pergi….
Disayangi orang-orang yang gue sakitin…
Dan ngebangkitin rasa sayang yang akhirnya keluar dari kotak hati gue…
Bahwa gue akhirnya punya keluarga…
Keluarga…
Yang selama ini gue cari-cari di mana-mana…

XX.           Bab 20 sesuatu dalam diri adi dan leo…
Leo duduk dengan tenang di sebuah kursi samping ranjang tidurnya sore itu. Langit berwarna jingga pastel, dan menyinari dedaunan pohon jati di samping kamar leo. Merasuk ke dalam jendela tempat leo menyandarkan lamunannya. Udara begitu dingin, namun nyamannya menerpa kulit leo. Membawa bau-bauan tanah basah setelah hujan.
Leo mengerjapkan matanya perlahan, menelanjangi matanya perlahan, menelanjangi langit. Langit itu seaakan menjadi sebuah layar besar tempat semua kenangannya berjalan pelan-pelan. Kenangannya tentang ibunya yang sangat ia rindukan. Tentang senyumnya, matanya, dan tubuh lembutnya. Semua tentang ibunya.
Leo mulai melipaat kertasnya. Pelan namun pasti, ia melipat kertas itu jadi beberapa pesawat sederhana. Yang bahkan mungkin tidak akan pernah mencapai langit.
“Okasan…,” Bisik Leo, manggil halus ibunya. Matanya menerawang sendu. Tubuh leo gemetar. Ia mulai meringis dalam keremangan—memberikan rasa sedihnya yang selama ini ia tahan, membuncah dan menguasai dirinya. Leo melangkahkan kakinya ke arah jendela luar.
PSWUUUSH!
Pesawat-pesawat itu leo lemparkan ke luar, kea rah langit jingga yang bergebyar indah di depannya.
“Leo sayang Okasan… Okasan denger?” Leo berteriak  sekuat tenaga kea rah langit. Gue siap jalan lagi, Okasan. Gue siap lari dan main lagi ditangga panjang gue. Kehidupan. Di kehidupan gue. Yang mungkin akan sedikit sepi saat Okasan pergi, tapi gue tahu gue harus berjalan lagi.
“Selamat jalan, Okasan…” Direntangkannya tangan lebar-lebar, seakan telah menyelesaikan sebuah pekerjaan berat yang akhirnya berhasil ia selesaikan. Seakan berharap seorang malaikat datang, memeluknya dan berbisik bahwa okasan-nya baik-baik saja.
Malam mulai datang. Menyelimuti langit dengan warna hitam.
***
Leo mengerenyit heran. Ada apa dengan adi?
Malam itu, setelah leo dimarahin sang suster Karena kabur dari kamarnya, Adi datang dengan wajah murung. Dia ingin menyelesaikan semua problem hidupnya kali ini agar bisa melanjutkan hidupnya lagi dengan normal. Termasuk tentang spiza.
“Empat, gue. Lo nyemprot gue dan nuduh gue macem-macem. Nuduh gue ngehianatin elo. Dan gue pastiin itu salah.”



XXI.        Bab 21 Sebuah Kata Paling Mahal di Dunia...
Malam itu Leo tidak bisa tidur. Ia terus-menerus melamun memikirkan semuanya. Tentang Spiza, khusunya.cowok itu langsung beranjak dari tempat tidurnya. Tubuhnya masih agak lemas, tapi ia berusaha tidak mengacuhkan. Ini darurat. Ia benar-benar harus ke rumah Spiza dan memastikan segalanya. Sekarang juga.
Huajn deras mengguyur Bandung.
Leo mencegat sebuah angkot hijau di tengah hujan deras malam itu. Ia langsung berlari ke dalamnya secepat mungkin sebab hawa di dalam dan di luar tubuhnya kini amat dingan.
Leo beridir mengggigil sambil sesekali mengetuk-ngetuk pagar. Digedornya pagar itu lebih keras, dengan segenap tenaganya, berharap ada Bi Ekos yang membukakan pintu walau di mala selarut ini. Beberapa menit kemuidan, untungnya akhirnya Bi Ekos berjalan ke arahnya membuka pintu. Bi Ekos langsung mberlari panik ke arah Leo dan menarik Leo untuk cepat-cepat masuk.
“Leo mencari Spiza?” tanya Bi Ekos membuka percakapn.
“Oh... iya” Leo tersenyum keci, kemudian menghela napas. “Tidak ada ya?”
Raut wajah Bi Ekos berubah sedih. “Iya, Neng Spiza udah nggak di sini. Cuman Bi Ekos aja yang disuruh jaga di sini. Ngurus rumah.”
“Dia ke mana?”
Tiba-tiba pintu di ruangan itu terbuka. Seorang gadis gadis yang pernah dilihat Leo sebelumnya di rumah Spiza tempo hari, berdiri kaget memndang Leo.
“Hah?” gumam gadis itu ketakutan.
“Lo siapa?” Leo beridiri dari sofanya. “Lo mau apa?”
“LO TEMEN SPIZA KAN? NGAPAIN DI SINI?” tanya Leo agak membentak.
“LO YANG NABRAK IRIS KAN?” teriak Leo lagi.
“AAA!” Gadis itu mulai mengigitnya
“Tenang, neng Stella...,” ujar Bi Ekos lembut, memeluk gadis itu.  Stella menjinak, dan bersedia ketika Bi Ekos dudukkan di kursi meja makan.
“Silakan kalau mau ditanya, Nak Leo. Dia Stella, yang jadi sopir waktu itu,” tuturnya menginformasi.
“Hey... lo... sopir yang nabrk Iris ya?” tanya Leo begitu ia mendudukkan tubuhnya ke kursi.
Gadis itu tidak bersuara, namun ia menangguk.
“Kaena itu lo bunuh diri?” tanya Leo lagi.
“Ya,” ucap Setala lirih, ulai menagis lagi. Leo terpekur
“Jangan nangis. Lo mending senyum,” sahut Leo demgan kadar rmantisnya
“Nah, sekarang ceritain perasaan lo. Auat apa aja. Cerita ke gue soal apa aja. Bahkan cerita tentang ibu lo di rumah, juga bakal gue dengerin.”
Stella terdiam , mencba meredakn tangisnya.
“Aku... Stella... Aku... sekoalh di 104... Aku...Aku... ketemu anak pinter banget di toko buku... dan... pikir... bisa nih... Aku... manfaatin anak itu... Spiz... Spiza...”
“Terus?”
“Aku waktu itu lagi teetawa... bercanda... hujan... Dan, nggak sengaja aku nabrak” Ceritanya terputus lagi
“Waktu itu Stella nggak tau... Iris mau lewat... Stella udah banting kanan, Iris masih kena. Dia... nggak tau kenapa dia begitu dekat ke jalan saat itu... dan... dan pas ketabrak... Stella masih bisa menenangkan diri, walau saat itu panik sekali.
“Tapi, Stella salah... Waktu Stella dan teman-teman datang ke Ibu Iris... dia ternyata ga maafin kami... Dan sejak itu hidup Stella nggak pernah sama lagi.
“Stella lau nggak tahan sama keadaan itu, terus mau ngejemput sendiri maut yang ngejar Stella itu” Tangis gadis itu mengeras lagi. “Ibu Stella nangis, tersu nanya... Stella kenapa? Apa salah Ibu sama Stella? Stella mesti jawab gimana? Stella masih kecil dan udah jadi pembunuh. Stella mesti gimana?”
“Gue.”
“Hah?”
“Gue. Kalau maaf gue bakalan bikin lo tenang, gue akan ngucapin itu seratus kali. Gue bakal teriak kalo gue maafin elo. Biar elo tenang dan nggak usah kayak gitu lagi,” potong Leo dengan raut datar. “Gue rela lo nggak ke polisi. Gue rela.”
“Hah?” Stella menggeleng.
“Nah, kita belum kenalan,” kata Leo, meyodorkan tangannya. “Nama gue Leo. Leostrada Andhika Servorova Ekihara Miyazao. Kalau lo?” tanya Leo.
“Stella, Stellanie Putri,” jawab gadis itu.
“Nah Stella, mau nggak lo menertawakan semua kesedihan ini bareng gue?” tanya Leo lagi. “Terus kita hujan-hujanan, oke?”.
***
Once before I go to sleep...
Leo duduk di beranda ruma itu sambil merasakn semilir angin yang berembus pelan-pelan. Sebuah tape recordertergeletak di pangkuannya.
“Sudah lama, Leo?”
Leo menoleh, dan mendapati ibu Iris berjalan ke arahnya
“Hhh,,, ada apa lagi, Leo?” tanyanya pelan.
Leo berbisik hati-hati. “Saya... ingin Ibu memaafkan Spiza,” katanya.
“Ini saya bawa tape recorder. Saya harap Ibu mau berbicara pada dia di tape recorder ini bahwa ibu memaafkan dia...,” tambah Leo.
“Itu tidak sesimpel yang kamu bilang tadi...” Dia mulai terisak. “Ibu sayang sekali sama Iris...”
“Leo mohon.” Asal Ibu tau... dia sendiri menyesal sekali. Dia sendiri sering nagis. Trauma.”
“...”
“Dia orang yang penting buat saya, Bu. Saya Cuma mau mengharap maaf kecil Ibu untuk memaafkan dia, “tegas Leo sekali lagi.” Itu saja.
“Nanti saya simpan ini di rumahnya.”
“Ibu...”
CKLEK
Mata ibu Iris melebar. Leo telah menekan tombol perekam, memulai rekamannya untuk Spiza.
Diambilnya perlahan tape itu dari tangan Leo
“Ibu sedih sekali selama Iris pergi... Iris selalu ada di sisi Ibu selama ini... dan Ibu selama dua tahun ini tidak pernah berhenti memikirkan dia...”
Tangis ibu itu meledak. Leo merasa tidak enak, dan berusaha mengambil tape itu dari tangan ibu Iris. Tpai, dia menolak
“I... bu... maafin... Spi... za,” bisiknya lirih, “Ibu maafin kamu...”
“Kamu... bisa lanjutin hidup kamu...,” imbuhnya lirih.
CTEK
Leo menekan tombol record-nya penuh kegembiraan dan memeluk ibu Iris erat-erat.

XXII.     Bab 22 Last but Not Least...
Banyak sekali yang terjadi setelah itu
Pelan-pelan, dan nyaris tanpa Leo sadari, hidupnya berubah sepenuhnya. Dari segala hal yang ia punya selama ini, Iris, keluarga, teman-teman, Spiza, dan apartemennya, nyaris semuanya mengalami perubahan. Bukan perubahan yang buruk malah Leo sangat mensyukuri satu demi satu kebahadiaan yang mulai menghampirinya. Dan yang paling pertama mengadakan perubahn di depan matanya, tentu keluarga dan tempat tinggalnya.
Tidak lama berselang, setelah ibunya dimakamkan, ayahnya., Kazi, dan Cashey, mengajak makan siang di rumah keluarga Miyazao hari itu. Leo tidak merasakan kejanggalan apa-apa. Baru di tengah-tengah percakapan mereka siang itu, tiba-tiba Kazi berucap,
“Kalau Kak Leo, apakah nggak ada rencana pindah ke sini?”
Dan, Leo langsung mengernyitkan dahi.
Leo tidak mengiyakan, ia masih ragu. Cashey dan ayahnya juga ikut membujuk, tapi ia belum bisa digoyahkan.
“Ada...” Ia membuang napas ragu. “Ada yang masih belum bisa Leo tinggalkan dari apartemen Okasan...”
Dan mendengar pernyataan Leo tadi, ayahnya melakukan hal yang tidakpernah Leo sangka sebelumnya. Ia tiba-tiba bangkit dari kursinya, kemudian memeluk Leo erat-erat, seakan sadar anaknya ini sedang dalam masa terapuh di hidpunya.
Pengalaman itulah yang selalu Leo pikirkan di hari-hari ke depannya, hingga akhirnya Leo setuju tinggal di rumahnya lagi. Ia membawa barng-barangnya termasuk barang-barang ibunya, kemudian muncul dengan gagah di pintu rumah keluarga Miyazao.
***
Tidak bebrbeda dengan apa yang ia rasakan di Wahutri. Seluruh siswa di sana menyambutnya hangat, dan gumaman selamat datang tidak heti-hentinya mereka ucapkan kepada Leo.
Luthfi, David, Adi, dan Kevin, masih jadi geng abadinya. Bahkan, Tyo jga sekarang jadi teman dekatnya.
Mereka terkadang bertanya pada Leo bagaimana perasaannya terhadap Spiza sekarang, dan Leo biasanya tidak menjawab apa-apa. Ia telah mencampakkan kejujuran dan kepercayaan Spiza, dan kini gadis itu sudah pergi dari hidpunya. Leo bahakan tidak tahu ia di mana mereka benar-benar putus hubungan semenjak pertengkaran terakhir itu.
WAKTU mengalir semakin cepat. Beberapa bulan telah berlalu sejak peristiwa nahas itu.
Setelahnya, Leo akan merasa ingin berteriak mengingat waktu yang harus ia lewatkan lagi dengan menunggu. Karane sampai akhirnya Leo mengalami momen perpisahan sekolah, gadis itu tidak juga muncul di hadapannya.




















D.  UNSUR INTRINSIK
1.      Tema : anak bernama leo yang mencari kebahagian hidupnya.
2.      Tokoh :
a.       Tokoh Utama : Leo Strada
b.      Tokoh Kedua : Spiza
c.       Tokoh pembantu : Iris, Chasey, Kazi, Otosan, Adi, Luthfi, Kevin, David, Tyo.
3.      Penokohan :
a.       Leo : pemarah
“GUE BENCI KALIAN! GUE BENCI HIDUP GUE! TINGGALIN GUE SENDIRI!” JEBRAK!
(halaman 6, paragraf 4)
b.      Spiza : baik
“Leo saat ini akhirnya duduk diruang tamu spiza. Sema lukanya sudah di plester oleh spiza dan ia merasa cukup baikan”
(halaman 78, paragraf 3)
c.       Iris : bersahabat
“Besok kita ngobrol lagi ya?” dia tertawa polos “Ah Iyaa! Nama saya iris” “Nama kamu?”
(Halaman 6 paragraf 5 )
d.      Chasey : ramah, penolong
Cashey, selama ini selalu mencukupi kebutuhan Leo di tempat kaburnya sebisanya.
 ( Halaman 44, paragraf 4)
e.       Kazi : peduli
“Kakak… Pulang saja…,” isaknya sedih. “kakak… kan punya Kazi, punya kak cashey.., kazi ga tahan liat kaka begini…”
 ( halaman 63, paragraf 6)
f.        Adi : bersahabat, setia kawan
“Empat, gue. Lo nyemprot gue dan nuduh gue macem-macem. Nuduh gue ngehianatin elo. Dan gue pastiin itu salah.”
(Halaman 282, paragraf 4)
4.      Latar
a.       Waktu :
-          Pagi
Pagi hari selalu jadi kotak cokelat yang menarik untuk dibuka bagi leo. (Halaman 48, paragraf 6)
-          Siang
Siang ini, gue, sama empat----shit gue, gue nggak tahan nyebut”temen” (Halaman 9, paragraf 5)
-          Sore
Sore di Bandung. Sebuah apartemen bercat abu-abu mengelupas (Halaman 1, paragraf 1)
-          Malam
Malam minggunya, tetap menjadi malam yang indah (Halaman 66, paragraf 5)
b.      Tempat :
-          Apartemen Leo
Sebuah apartemen bercat abu-abu ( Halaman 1, paragraf 1)
-          Sekolah
Bel sekolah berbunyi bersamaan dengan langkah pertamanya di koridor. (Halaman 71, paragraf 1)
-          rumah spiza
Leo akhirnya mendarat dirumah spiza. (Halaman 75, paragraf 3)
5.      Suasana : Menegangkan.
Satu surat putih di meja kecil sebelah ranjangnya. Berjudul huruf balok besar-besar :
Dari Okasan.
Darah leo berdesir, firasat tidak enak.
Apa yang terjadi
(Halaman 236, paragraf 5)
6.      Alur : Maju – Mundur
a.       Eksposisi
Adalah seorang pemuda bernama Leo. Matanya kering, kosong, tetapi sangat kuat. Ini menunjukkan karakter leo yang keras, tidak mudah goyang dan pemberontak.
“ Namanya Leo. Matanya seperti ember di tengah Sahara. Kering. Kosong. Penuh debu. Tapi, sangat kuat.’’
“ Leo memegang segelas air. Air yang ia teguk beberapa kali selama berjalan. Air yang sesekali ia ludahkan kembali karena mengandung darah. Air yang hampir semua orang tidak ingin mengetahui dari mana. Karena ia juga secara kasar bisa dibilang “mencuri”.        
b.      Intrik
Masalah kecil dimulai ketika ada seorang wanita yang ingin bunuh diri yang menggantungkan teru-teru bozu agar hujan tidak turun. Dan Leo mengingat Irisnya yang meninggal satu tahun yang lalu akibat kecelakaan.
 “Iris, bisik otaknya lirih. Hari ini genap satu tahun pergi, ya?”
 “ Hei! Kenapa menggantungkan itu?”
“ biar hujan nggak turun”
“memangnya kenapa kalau turun?”
“ Aku keburu mati sebelum aku bunuh diri.”
“kamu mau bunuh diri?”
“ Ya, asal nggak hujan.”
“……”
c.        Komplikasi
Masalah kecil tersebut semakin kompleks semenjak ia menolong gadis yang menggantungkan teru-teru bozu  sedang bunuh diri di kamar mandi sekolahnya. Dan tanpa rasa bersalah, Leo menolong wanita yang bernama Spiza tesebut.
“ Lo……. Jadi bunuh diri, ya?”
“NGGAK, BARU  TESTING DOANG. Ya jelaslah! Segala komponen bunuh diri sudah ada disini. Darah, message, luka, air, ……”
d.      Klimaks
Klimaks dari Novel ini adalah dimana Leo mencari siapa sebenarnya yang menabrak Irisnya tersebut. Dan ternyata yang menabraknya adalah wanita yang sudah dicintainya yaitu SPIZA.

“ Gue udah ngeliat ratusan orang dihidup gue yang berakting menjijikkan seperti itu, dan gue bener-bener kaget ternyata elo juga kayak gitu”
“ Apa? Gue nggak Akting, Leo! Gue nggak Akting! Iya! Emang gue sama temen-temen gue yang nabrak,tapi gue…..”
“buktiin ke gue kalo lo nggak sengaja!”
e.       Antiklimaks
Okasan Leo akhirnya meninggal setelah bunuh diri. Dan ayahnya dirawat karena terkena luka tembak di dadanya. Akhirnya , Leo mendapatkan keluarga yang ia dambakan seperti dulu meskipun tidak lengkap karena Okasannya telah tiada. Ia kembali kerumah dan menjalani hari-harinya bersama Otosannya, Kazi, dan Cashey.
“….Betapa ingin Otosan memulai semuanya lagi….! Maafkan Otosan Leo…maafkan Otosan….,”  Leo kemudian memeluk Otosannya yang kemudian diikuti Kazi dan Cashey.
f.         Resolusi
Akhirnya hati Leo menjadi lunak karena mendengar penjelasan Stella ( orang yang menabrak Iris )
“Tahu kenapa kamu nggak mati-mati juga?”
“hah?” Stella menggeleng.
“Tuhan percaya kamu, Stel. Dia nggak seegois manusia. Dia bukan pendendam,”  ujar Leo.
Sudut pandang : Sudut pandang yang digunakan penulis dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga. Karena, penulis menceritakan semua tokoh secara menyeluruh dan tanpa terfokus kepada tokoh utamanya (Leo).
Amanat : Pelajaran yang kita dapat dari novel berjudul “Dan hujan pun berhenti” adalah kita harus menyayangi orang yang kita sayangi dan jangan membuat mereka sakit hati, kita harus bias memaafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita, jangan mudah putus asa ketika sedang mendapatkan banyak masalah.


E.  UNSUR EKSTRINSIK
1.      Nilai Estetika :
“Sebuah rumah besar bergaya Eropa berdiri tegak dalam kemilau jingga senja.”
(Halaman 33, paragraf 5)
2.      Nilai Moral :
“Hubungan pertemanan itu dibangun dengan rasa percaya diri, Di”
(Halaman 277)
“Segala seuatu yang baik, selalu pergi cepat. Seperti bensin yang Cuma sekali kedip lalu hilang dari dunia.”
(Halaman 37, paragraf 7)
“Hidup adalah mimpi. Atau, mimpi adaah hidup. Dimensi manusia begitu bias sehingga kita amat bebas untuk berharap. Yang mana saja yang kamu sukai, percayailah, itu sebagai hidupmu.
(Halaman 32, paragraf 1)
3.      Nilai budaya :
“Benda tersebut namanya teru-teru bozu, tradisi penangkal hujan khas jepang.”
(Halaman 3, paragraf 6)s
4.      Nilai Religi :
“DAN GUE TAKUT TUHAN”
(Halaman 201, paragraf 1)

STRATAWMA.INC

Website lama kami di stratawma.com sudah di pindahkan ke website kami yang baru di stratawma.com

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai topik agar tidak dianggap SPAM