16/03/19

Jenis jenis aspal (aspal minyak)


JENIS JENIS ASPAL ASPAL MINYAK


JENIS JENIS ASPAL ASPAL MINYAK

Aspal Minyak


Aspal minyak (aspal semen/aspal keras, bitumen, aspal baku) adalah kumpulan bahan-bahan tersisa dari proses destilasi minyak bumi (atmospheric, vacuum, debotlenecking, dan sebagainya) di pabrik kilang minyak, bahan sisa yang dianggap sudah tidak bisalagi diproses secara ekonomis (dengan kemajuan teknologi dan kondisi mesin yang ada) untuk dapat menghasilkan produk-pro-duk yang dapat dijual seperti misalnya sejenis bahan bakar, bahan pelumas dan lainnya. Bahan-bahan sisa tadi dicampurkan antara residu padat dengan bahan cair lain, biasanya akan dibagi dalam tiga kelas, yaitu Kelas Penetrasi (Pen40/50, Pen 80/70 dan Pen 80/100). Di negara lain, selain Kelas Penetrasi dikenal juga Kelas Viskositas (Australia, contoh: AC-2,5, AC-5, dan sebagainya) serta kelas Performance Grade (diusulkan oleh SHRP untuk kelas aspal yang dikaitkan dengan ketahanannya terhadap suhu, contoh: PG 64-10, PG 70-20, dan sebagainya) Garis besar proses kilang minyak yang akhirnya akan menghasilkan sisa bahan yang kita sebut aspal minyak seperti tergambarkan dalam sketsa di bawah ini



Pada suhu tertentu (misalnya suhu kamar 25°C, suhu standar untuk tes angka penetrasi aspal), semakin rendah angka penetrasi maka akan semakin keras wujud aspal, semakin susah cara penanganannya (diperlukan suhu lebih tinggi agar aspal menjadi lunak atau cair). Sebaliknya, semakin tinggi angka penetrasi, maka aspal akan mudah menjadi encer, mudah dikerjakan, tetapi terancam sulit untuk mencapai kestabilan campuran aspal, terutama pada iklim panas seperti di Indonesia, karena aspal cenderung melunak pada suhu udara tinggi. Namun, kaitan antara angka penetrasi dan kelunakan aspal pada unjuk kerja akhir belum ada data yang dapat dijadikan pedoman, karena banyak hal yang akan terlibat, antara lain titik lembek (angka penetrasi dan titik lembek tidak saling berhubungan), jumlah filler, jenis gradasi, dan lain sebagainya.



Pengerjaan aspal umumnya memerlukan pemanasan pada suhu sekitar 110-170°C, supaya aspal menjadi encer (viskositas rendah sekitar 0,2 sampai dengan 50 Pa.s), sehingga mudah untuk dipompa/dipindahkan, dicampur dengan agregat ataupun dipadatkan. Akibat pemanasan tersebut, apalagi kalau berkali-kali dan dalam waktu lama, maka banyak minyak aromatik yang menguap, sehingga menyebabkan aspal mengeras (angka penetrasi turun). Aspal dengan penetrasi rendah akan gampang terkena oksidasi menjadi getas, kehilangan daya lengketnya, dengan akibat lapis aspal akan terburai atau lepas butir. Di Indonesia kita sepakati angka terendah untuk penetrasi bahan aspal ditetapkan 50 (Spe sifikasi Bina Marga sejak 2003), supaya setelah dikerjakan dan menjadi lapis perkerasan, aspal masih tahan terhadap oksidasi akibat sinar matahari di permukaan jalan, hingga aspal mengering dan mencapai penetrasi 25 (dipercaya batas terendah angka pe- netrasi untuk aspal sebelum terburai adalah pen 25). Sebenarnya aspal 40/50 masih bisa digunakan untuk permukaan jalan yang Berumur pendek dan lalu lintas ringan semacam jalan desa atau kabupaten yang masih sepi, dengan pemanasan menggunakan kayu bakar di pinggir jalan (tanpa mesin canggih dan mahal), cepat mengering setelah disemprotkan ke permukaan jalan. Pelaksanaan pekerjaan tersebut dikenal sebagai Metode Surface Dressing (Burtu/burda) dan Metode Penetrasi Macadam, tidak terlalu jelek dilihat dari segi kualitas, tetapi dianggap sudah ketinggalan zaman karena bersifat padat karya,
lambat, dan permukaannya kasar. Cara ini pernah dipraktikkan di seluruh duniamenjelang dan sesudah Perang Dunia I1, terutama sewaktu kebutuhan pembuatan jalan belum terlalu banyak sehingga tidak harus dilakukan dengan mesin-mesin besar (Stone Crusher, AMP Dumptruck, Finisher, Pneumatic Tyre Roller, Agregat spreaderdan sebagainya). Namun, teknologi pembuatan jalan dengan cepat berubah ke padat mesin karena meningkatnya kebutuhan sarana lalu lintas jalan raya, meningkatnya tuntutan kualitas dan di samping semakin sulitnya bagi negara-negara industri (negara maju) mendapatkan tenaga kerja untuk pelaksanaan pembuatan jalan secara padat karya.




JENIS JENIS ASPAL ASPAL MINYAK


Di negara yang belum maju dan agraris seperti Indonesia, penggunaan perangkat mesin besar sebelum waktunya (pada wilayah yang belum berkembang, jalan masih sepi lalu lintas, panjang jalan masih sedikit, beban sumbu kendaraan belum berat), akan mengakibatkan pemborosan karena harus investasi me-sin-mesin besar yang mahal, tenaga ahli yang masih langka, dan pemakaian kapasitas mesin yang masih rendah, mengakibatkan harga pembangunan jalan menjadi tinggi. Aspal dengan angka pe-netrasi rendah (pen 40/50) untuk teknologi Penetrasi Macadam atau Surface Dressing (burtu, burda), sangat sesuai dengan pekerjaan secara padatkarya, di mana aspal dipasok dengan drurm yang berfungsi sekaligus sebagai storage tank, pemanasan cukup memakai kayu bakar di pinggir jalan, aspal cepat dingin dan mengental, sehingga bila dikucurkan ke permukaan lapis batuan yang dipadatkan setengah jadi (lapisan masih berongga besar), aspal tidak akan "drain ofp (mengalir) ke bawah, sangat sesuai karena aspal tersebut diperlukannya di atas permukaan, untuk menut- up rongga agar tidak tembus air. Sayangnya, kedua teknologi ini sekarang jarang dipakai karena dianggap ketinggalan zaman, kurang bergengsi dan terlalu lamban, sehingga permintaan aspapen 40/50 pun dengan sendirinya menjadi surut dan tidak lagi diproduksi secara besar. 

Beton aspal, sebaliknya, sebisa mungkin menggunakan aspal dengan angka penetrasi tinggi (aspal lunak), karena proses pencampuran dan pengangkutan memerlukar waktu yang lama, yang menyebabkan menguapnya minyak alami berakibat aspal menjadi kering, dan kehilangan daya lengketnya Hot Rolled Sheet (HRS) pada tahun 80-an pernah menggunakan aspal pen 80/100, menggunakan gradasi senjang untuk mem bentuk rongga antarbutir (void) yang lebih besar, banyak butirecil sehingga membantu menahan aspal pada matriksnya (kadar aspal dalam campuran HRS biasanya di atas 7% untuk dibanding kan dengan beton aspal jenis lain yang umumnya berkisar hanya ( 53-5,8%). Peningkatan kadar aspal tersebut dilakukan dengan maksud agar lapis perkerasan tidak mudah retak (banyak aspal, lebih lentur) tidak mudah bocor air, permukaan jalan tidak mudah menjadi berlubang. Maksud tersebut tercapai, tetapi muncul kerusakan jenis lain, yaitu terlalu lunak dan lentur sehingga mudah bergelombang, yang dikeluhkan oleh pemakai jalan karena mobil bergetar dan mudah lepas kendali bila melalui jalan lapis HRS dengan kecepatan tinggi. Dengan pengalaman seperti disebutkan di atas, maka untuk menggunakan aspal minyak dengan angka penetrasi 6 tidak dapat dicegah lagi, akhirnya menjadi favorit. Hal ini punmemudahkan produsen karena hanya akan memproduksi jenis aspal saja, sehingga mengurangi kemungkinan stok berllebihan atau kekurangan dari satu jenis aspal yang tidak bisa dituyup dengan aspal jenis lain.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post

This Blog is protected by DMCA.com

 

Delivered by FeedBurner